Cursor

SpongeBob SquarePants Mr. Krabs
Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Saturday, November 25, 2017

My second book



Yyeeey......
Finally, buku kedua gue udah rilis lagi. Alhamdulillah buku pertama gue punya adek juga setelah 2 tahun. Biarpun masih dalam ebook version, semoga dalam waktu dekat bisa rilis printed version nya.
Aamiin...

You all can check this out at : http://getscoop.com/urls/item/143262

Friday, September 2, 2016

Momo



             15 Januari 2013, kata ibuku aku lahir di hari itu bersama tiga saudaraku yang lain. Aku lahir di mesin cuci di rumah pemilik ibuku. Keluarga yang mempunyai ibuku sejak ibuku kecil sangat baik, mereka semua ada lima manusia baik. Tapi walaupun begitu, terkadang uncle dan onty yang memelihara kami suka terlambat memberi kami makan. Tapi kami senang tinggal di sana. Mereka semua baik dan menyayangi kami. Banyak pelukan dan belaian hangat yang aku, ibu, dan tiga saudaraku dapatkan dari keluarga kecil ini.
            Aku kucing kampung yang lucu dan menggemaskan. Rambut di badanku warna motifnya sangat unik. Kata uncle Rifky, salah satu anak keluaga pemilik kami yang sedang bersekolah di sekolah dokter hewan, warna dan motif rambutku seperti macan tutul hitam. Ekorku menyerupai ekor ibuku, panjang sekali. Ekor yang kupunya berbeda dengan ketiga saudaraku yang lain yang memiliki ekor pendek. Ada yang berbeda saat aku sedikit lebih dewasa. Ada hal yang istimewa di tubuhku. Kedua kelopak mata atasku tidak tumbuh dengan baik, jadi aku terlihat berbeda dengan kucing kampung lain. Mataku jadi terlihat sipit. Menurut uncle Rifky yang calon dokter hewan, aku mengidap kelainan baawaan yang dalam istilah kedokteran hewaannya disebut Ektopion. Tapi walaupun hanya aku yang memiliki kekurangan fisik, kami semua lucu dan aku tidak pernah sedih. Namun sayang, setelah empat hari kami lahir, ibu harus kehilangan dua saudaraku. Uncle Rifky cerita, mereka terinfeksi virus yang mengakibatkan sistem imun dua saudaraku itu menjadi lemah. Aku sebenarnya tidak mengerti apa yang dikatakannya. Ibuku terlihat sedih saat itu. Akhirnya mereka dikubur di dekat rumah tempat tinggal kami.
            Tidak terasa lima bulan sudah umur aku dan Muezza, saudaraku yang tinggal satu-satunya menemaniku. Kami bermain sepanjang hari. Berlari dan bermain di ruang tamu dan di sudut-sudut ruangan. Di waktu siang, aku dan adikku itu sangat senang menyusu di ibu kami. Tempat favorit kami menyusu adalah di bawah meja makan atau kursi teras. Aku dan saudaraku suka menyusu di tempat itu karena lantai tempat kami berbaring dingin. Karena udara tempat kami tinggal, di Kota Bekasi, sangat panas kalau siang hari. Apalagi saat berbaring santai di kursi teras ditemani angin sepoi-sepoi menerpa kami dan membuat sejuk. Terkadang juga membuat rambut ibuku tertiup lucu. Ibu juga sering mengajak kami bermain. Tapi kami akan dimarahi oleh pemilik kami kalau berkeliaran di jalan. Mereka mungkin khawatir jika kami tertabrak mobil atau  hal membahayakan lainnya yang dapat menimpa kami.
            Namun seiring berjalannya waktu dan kami makin tumbuh, ibu kami harus menyebrangi jembatan pelangi karena dipanggil oleh Tuhan. Ibu meninggal mendadak sekali dan tubuhnya ditemukan oleh uncle Rifky di bawah kursi di depan rumah kami. Aku sedih saat ibu harus kembali ke kandang lebih besar di langit dan semua anggota keluarga pemilik kami pun juga terlihat sedih. Padahal aku dan adikku sangat sayang dengan ibu. Ibu maafkan kami karena kami selalu menyusahkan ibu. Kami suka bandel karena sering mengganggu ibu kalau ibu sedang tidur atau sedang makan. Setiap waktu makan pasti ibu selalu mengalah tidak menyentuh makanan yang diberikan onty atau uncle dan menyuruh kami makan terlebih dahulu. Ibu baru makan kalau kami sudah tidak ingin makan dan mulai bermain lagi. Aku sering mengganggu ibu dengan menggigiti ekor ibu dan terkadang ibu merasa sakit dan memarahi aku. Tapi kami sangat sayang sekali dengan ibu. Semoga ibu mendapat ikan yang besar di langit.
            Siang itu aku dan Muezza sedang bermain. Namun, Muezza bermain terlalu jauh dari rumah. Hingga malam pun ternyata Muezza tidak kunjung pulang, aku membantu uncle dan onty ku mencari Muezza. Tapi tidak berhasil. Tiga hari Muezza hilang dan tak kunjung pulang. Terkadang aku menatap uncle dengan tatapan bertanya, “Muezza mana uncle?”. Tapi uncle hanya menjawab, “Mungkin Muezza sudah mendapatkan tempat hidup yang lebih baik lagi”. Setelah kepergian ibu, ternyata Tuhan sangat sayang denganku. Aku harus kehilangan saudara satu-satunya, teman bermain satu-satunya, Muezza. Muezza harus pergi meninggalkan rumah kami karena ada yang tertarik mengadopsinya.
            Aku tumbuh menjadi kucing kampung yang lucu. Hobiku bermain bersama teman-teman di luar rumah. Kalau siang hari terkadang aku bermain, namun kalau cuaca sedang panas aku akan tidur-tiduran di sofa atau di atas lantai. Aku sangat suka ketika uncle mengelus perutku saat aku tidur. Aku merasa nyaman sekali. Tapi kata uncle, aku punya kebiasan jelek. Aku kucing yang tidak sabaran kalau meminta makan. Aku akan mengeong keras sekali dan mendekati onty atau uncle dan berjalan manja di kaki mereka. Cara itu selalu berhasil untuk mendapatkan apa yang aku mau dari uncle atau onty. Sehabis itu, pasti aku diberi makan yang banyak. Setelah kenyang, aku biasanya menjilati bagian kakiku dan merasa kekenyangan. Kalau sudah kenyang, aku paling tidak suka kalau digendong atau dipegang. Aku pasti akan selalu mencoba menghindar saat ingin ditangkap dan berlari ke luar rumah untuk kembali main lagi.
            Aku punya cerita saat aku ditinggal oleh keluargaku. Malam sebelum mereka berangkat, uncle Rifky membuatkan aku dispenser makanan agar nanti saat aku lapar aku tetap bisa makan. Tidak lupa juga ia siapkan satu ember berisi air untuk minumku. Cukup lama sekali aku ditinggal oleh mereka, aku tidak tahu berapa lama. Saat aku ditinggal, esok hari setelah keluarga pemilikku pergi dan membawa banyak barang berisi pakaian dan kue-kue, aku melihat banyak sekali manusia lalu lalang di depan rumahku. Aku bingung, tapi aku senang karena ramai. Saat aku jalan-jalan di hari itu, ada banyak rumah-rumah yang membuang makanan. Tulang ayam, kesukaan teman-temanku di luar sana melimpah ruah. Aku sempat mengobrol dengan seekor teman di dekat rumahku.
“Apa yang sedang terjadi?”, tanyaku.
“Entahlah, aku juga tidak tahu. Yang jelas setiap tahun pasti ada yang seperti ini. Ada yang pergi membawa banyak tas dan barang-barang selama beberapa hari dan yang tidak pergi pun juga banyak. Pagi harinya, mereka manusia pergi ke tanah lapang dan berkumpul di sana. Mengumandangkan sesuatu di pengeras suara dari malam hingga pagi hari keesokan harinya. Suara mengagetkan disertai kilauan cahaya di langit juga meramaikan di hari itu. Di rumah-rumah, setelah mereka pulang berkumpul akan ada banyak sekali makanan dan saat itu lah kami berkumpul menunggu  tulang ayam kesukaan kami.”, cerita salah seekor teman dekatku di rumah. Aku tidak ikut makan dengan mereka karena uncle dan onty sudah menyiapkan makanan yang banyak sekali di teras rumah.
            Setelah lama menunggu di kursi teras rumah akuhirnya pada malam hari keluarga pemilikku pulang. Aku sangat senang sekali. aku mengeong sangat keras karena aku kangen mereka. Sudah lama sekali aku tidak melihat mereka. Walaupun makanan dan minuman melimpah, tapi tidak ada yang mengelusku. Aku kangen saat onty mencium kepala dan mengelus leherku. Aku senang sekali mereka kembali. Kukira mereka marah dengan kelakuanku yang terkadang nakal, tapi tenyata mereka pulang juga.
            Itulah kisahku, kucing kampung biasa yang pemiliknya memberikan nama Momotaro padaku. Sekarang aku sudah berumur 1 tahun dan badanku makin gemuk. Aku sangat senang tinggal di keluarga ini. Walau aku sudah ditinggal ibu dan saudara-saudaraku tapi aku masih punya onty dan uncle yang sangat sayang padaku. Namun aku terkadang suka kesal dengan uncle Rifky yang senang menarik pipiku dan menciumnya. Aku suka kesakitan karenanya. Walaupun begitu tapi aku sangat sayang padanya. Uncle selalu membersihkan telingaku, menggunting kukuku, dan setiap uncle ada di rumah ia selalu memeriksaku dengan benda yang satu sisinya ditaruh di dadaku dan satunya lagi di telinganya. Uncle juga sering membuka mulutku dan menaruh benda ke bagian tubuhku yang mengeluarkan pup dan berbunyi bip....bip jika sudah terlalu lama. Aku suka tidak bisa diam kalau sedang diperiksa dan dimandikan, tapi uncle selalu bilang ini dilakukan agar aku selalu sehat dan tidak sakit. Kalau aku gatal, uncle selalu memeriksa kulit yang kugaruk dan memberi sesuatu di bagian yang gatal itu. Rasanya dingin tapi nyaman sekali. Aku sayang sekali dengan uncle dan onty pemilikku. Mereka sangat baik sekali. Semoga Tuhan selalu memberikan kesehatan dan uang yang melimpah untuk mereka semua agar mereka bisa tetap bermain dan memberikan aku makanan lezat yang aku suka.

JAKARTA



Jakarta, kota metropolitan yang kaya akan seribu warna dan cahaya. Layaknya seribu lampu neon milik gedung-gedung dan kendaraan yang berkelip-kelip menghiasi wajah malamnya setiap hari. Jakarta adalah sebuah kota yang menurutku maju namun belum dapat memajukan semua manusia di dalamnya. Kota yang tidak pernah tidur, yang semua hal dapat ditemukan di sini, termasuk semua karakter manusia yang melambangkan sifat orang Indonesia. Namun sayangnya aku belum dapat menyamakannya dengan New York, Las Vegas, Boston, apalagi Tokyo. Tapi Jakarta punya sesuatu yang sama dengan kota-kota besar itu. Termasuk kehidupan siang dan malamnya yang jika kita dapat merenungi dan mendengar dengan seksama jeritan orang di dalamnya, kita akan menemui letak kesamaannya. Kaum urban, kaum papa, eksekutif muda, tunawisma, dan pedagang asongan adalah contoh kecil tokoh fakta yang berlakon dan ikut menyemaraki hidup di Jakarta ini. Profesi dan orientasi hidup yang tidak pernah terbayangkan sedikitpun oleh masyarakat general di luar sana juga dapat ditemukan. Dan aku adalah salah satu manusia penghuni kota modern ini dengan topeng yang terus kukenakan dalam menghadapi kerasnya Jakarta. Kota yang sudah memberikan hidup dan yang mungkin juga akan memberikanku mati ketika aku tidak sanggup mengikuti kemampuan Sang ibukota ini berkembang mengikuti zaman.
Aku adalah pegawai pria sederhana yang bekerja dan menjadi budak uang di suatu perusahaan ternama yang bergelut dalam bidang tambang. Ya, mungkin bisa dibilang aku termasuk manusia ibukota yang beruntung, yang bisa menyaksikan sejuknya pagi, sesaknya bernapas di siang hari, serta malam gemerlap milik kota ini. Namun jika dipikir-pikir lagi, aku memang orang yang beruntung. Setelah menyelesaikan kuliahku, aku bisa mendapatkan posisi sebagai manajer di perusahaan itu. Posisi yang bisa membuat keluarga, orangtua, dan orang-orang di sekitarku sekarang ini tersenyum bangga dan berdecak kagum padaku. Orang melihatku sebagai sosok yang sempurna, mapan dan memiliki peluang besar untuk dapat menikmati surga dunia dan bisa mendapatkan segalanya. Apalagi tempatku berpijak dan bermimpi setiap malamnya selama 24 tahun ini bisa memberikanku segala fasilitas kaum borjuis dengan mudahnya.

Pukul 17.20
Senja mulai menampakkan paras anggunnya. Pancaran merah lembayung yang bercampur dengan violet dan hitam di ufuk Barat mulai terlihat dari jendela ruang kerjaku di lantai 12. Matahari pun seakan lelah menyeruakkan sinarnya yang sedari siang sudah ia keluarkan dengan garangnya hingga membuat suhu di luar gedung kembali bersahabat dan membuat orang-orang yang berjalan di luar sana juga kembali berani untuk meninggalkan penatnya rutininas seharian menuju ke peraduan untuk memanjakan diri beristirahat diselimuti gelapnya malam. Akupun menjadi salah satu di antaranya. Bagai burung yang tak sabar untuk pulang kembali ke sarangnya setelah seharian lelah mencari makan, aku mulai bangkit dan membereskan semua berkas yang seharian ini memaksaku untuk mengerjakannya. Ingin rasanya aku cepat untuk sampai ke tempat tidur empukku, namun ternyata waktu berkehendak lain. Hampir 45 menit waktuku tersita hingga aku benar-benar siap berjalan keluar ruanganku dan akan kembali untuk mengucapakan “selamat pagi” sekaligus menyapa mentari pagi keesokan harinya.
Malam itu aku pulang ke rumahku yang letaknya di sebuah sudut kota ini. Seperti biasa, aku memilih menggunakan transportasi massa yang tersedia. Kebanyakan pekerja sepertiku ini memang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi untuknya bekerja dan membunuh waktu di jalanan padat pada jam-jam pergi dan pulang kantor. Dengan dalih ingin segera sampai dan tidak ingin dibuat penat lagi dengan kondisi jalan yang macet. Namun aku berpikir lain, bagiku transportasi yang kugunakan setiap hari ini dapat mengenalkanku lebih dekat dengan kota ini. Lebih dekat dengan cerita yang terpendam dari Jakarta. Cerita yang tidak akan kita temui kalau kita duduk dan berada di jok mobil empuk berpendingin udara sambil menikmati dengan egois alunan lagu pop terkini yang dimainkan oleh pemutar musik di dalamnya. Aku menyukai kereta dan sepertinya aku jatuh cinta dengan transportasi ini.
Aku mulai menempelkan karcis berlangganan milikku di pintu masuk stasiun dan mulai berlari menuju salah satu gerbong kereta yang mengarah ke stasiun Manggarai. Seperti biasa, gerbong penuh dengan puluhan orang yang tak kukenal. Aku mengutuk diriku sendiri bila terlalu muluk mengharapkan kalau kereta pada jam sibuk seperti ini sepi tak berpenghuni. Tua-muda, pria-wanita, bahkan ibu yang membawa anaknya pun ikut berdesakan dengan “ganas” saat itu karena keinginannya untuk kembali berkumpul dan berbincang hangat menikmati kopi di ruang televisi dengan keluarga mengalahkan keletihan yang mereka rasakan seharian ini. Walau harus memilih berhimpitan satu sama lain ketimbang memilih kereta dengan keberangkatan berikutnya.
Sesaknya kereta membuatku tak bisa berpikir apapun, bahkan kelelahanku membuat diri ini dapat tertidur sejenak walau dalam keadaan berdiri. Aku mulai memejamkan mataku menikmati harumnya bau yang tidak karuan dan pemandangan yang kulihat setiap harinya ini, entah sampai kapan. Tidak ada pegunungan, sawah yang indah, atau pemandangan lain yang bisa memanjakan mata lelah ini. Hanya lautan manusia egois dan ingin menang sendiri dengan berbagai kedok yang dimilikinya.
Tiga puluh menit aku berada di kereta itu dan akhirnya kereta pertama yang kutumpangi pun sampai di stasiun yang kutuju. Bagai ikan Salmon yang berenang mengikuti derasnya arus sungai, dengan mudahnya aku keluar dari gerbong pengap itu. Jam yang menggantung diam di salah satu sudut peron di stasiun Manggarai menunjukkan pukul 18.35. Itu tandanya sudah lebih dari satu jam waktuku terbuang menikmati rutinitasku di jalanan ibukota Jakarta. Aku bergegas menuju jalur yang berlawanan arah dari kedatangan kereta pertamaku untuk kembali menunggu dengan sabar kereta keduaku menuju stasiun Buaran. Aku sudah tidak bisa menahan letihnya kaki ini hingga sejenak tatapanku menjadi kosong memikirkan semua hal dalam kehidupanku. Semua hal yang kupertanyakan sedari dulu. Tentang hidup, tentang kebahagiaan, tentang kebebasan  memilih dalam masyarakat, atau apapun yang membuatku menjadi letih berpura-pura di Jakarta. Tak terasa lamunanku ternyata berhasil mengisi waktu kosongku saat menunggu tadi. Kereta yang aku tunggu 15 menit yang lalu akhirnya menyadarkanku dengan suara gemuruh khasnya. Sekali lagi, aku merasakan kembali apa yang aku rasakan di kereta sebelumnya. Dan aku hanya berharap semoga masih ada bahan lamunanku yang lain yang bisa membunuh waktu membosankanku di gerbong kereta itu hingga aku sampai di stasiun yang kumau. Ah, ingin rasanya aku segera merebahkan punggungku ini.

Pukul 19.20
            Malam sudah semakin menampakkan suasana khasnya. Aku keluar dari stasiun Buaran dan menyegerakan langkahku untuk menaiki angkutan umum menuju hunianku. Namun, ada satu hal yang berhasil menghentikan sejenak langkah kakiku yang tergesa-gesa itu. Tong sampah besar dekat stasiun itu mungkin menjadi saksi bisu terhadap warna ibukota. Malam yang sudah semakin larut, di saat para pekerja kembali ke rumahnya masing-masing untuk berisirahat menikmati sisa waktu yang tersisa di hari itu bersama keluarga, namun masih saja ada yang menjadikan malam sebagai ladangnya mencari rupiah. Wanita tua itu dengan tatapan lesu mencari beberapa botol dan gelas bekas air mineral atau benda apapun yang masih dapat dihargai dengan rupiah. Pemandangan yang menurutku pribadi sungguh ironis, namun biasa bagi Jakarta. Banyak kaum marginal yang terlena dengan mimpi baik tentang kota ini dan akhirnya terjebak dalam sebuah fatamorgana hidup yang ditawarkan. Atau saat kulihat anak-anak kecil yang masih semangat bermain sambil menadahkan gelas bekas minuman ke pengunjung toko waralaba 24 jam di seberang stasiun demi beberapa receh yang terkadang aku sia-siakan keberadaannya di saku celanaku. Aku hanya dapat menjadikan diriku sebagai pengamat, layaknya pakar sosial yang berkomentar tentang mereka, namun tidak mampu berbuat apapun kecuali memberikan beberapa lembar rupiah yang bernilai kecil sisa aku membeli makanan dan minuman ringan di toko waralaba tadi. Ini menjadi cerita unik tersembunyi dari Jakarta yang baru sadar aku baca hari ini.

Pukul 21.05
            Akhirnya aku sampai di kamarku. Kamar pribadi yang lumayan besar untukku sendiri itu membuatku menjadi orang yang paling bersyukur karena aku dapat merasakan hangatnya tidur di bawah selimut bermotif garis hijau-putih itu. Entah kenapa, hari ini aku merasa sedang berdialog dengan Jakarta. Padahal, hari ini tak ada yang unik dari hari-hari sebelumnya. Hari kerja yang selalu aku lalui dengan senang namun tak jarang menggerutu juga. Namun ada yang berbeda dari hari ini. Aku banyak menikmati kehidupan dan cerita yang disuguhkan oleh kotaku ini tanpa kusadari sedari dulu. Cerita tentang keunikan Jakarta dan orang-orangnya yang katanya ramah dan bersahabat namun dapat berubah menjadi egois saat terpacu dengan waktu. Namun itulah Jakarta, dengan kehidupan malamnya yang bisa kita saksikan jika kita mau mencoba lebih peka terhadap keadaan.
Saat kita sedang menonton acara kesukaan di televisi, mungkin di suatu tempat di Jakarta sedang ada orang yang bekerja menggantungkan kehormatan hidupnya demi dapat bertahan dan mengikuti arus normal kehidupan di kota ini. Kami, manusia metropolitan, hidup dengan kedok agar dapat hidup dan diterima oleh kehidupan kota ini yang memang keras dan penuh dengan warna serta cerita. Kekayaan menjadi sebuah modal dalam strata sosial dan cinta yang terkadang tidak mengenal tempat yang sepantasnya. Semua hal itu memang bisa kita temukan di sini, di Jakarta. Dan aku lah satu di antaranya.
Suara nyaring dari ponselku kembali menyadarkan lamunan hasil letihku di kamar itu. Kumulai membuka pesannya dan kulihat ternyata kekasihku, orang yang entah bagaimana aku rela berkorban apapun untuknya padahal ini masih menyisakan tanya buatku dan hidupku di masa depan, yang mengirim pesan singkat itu.

Dari: Radhit (+6281402989xxx)
Sayang, sudah sampai rumah belum? Langsung mandi trus tidur ya. Love you.


***
TAMAT

Cerpen ini diikutsertakan dalam rangka kompetisi IPB Art Contest 2014

Wednesday, January 13, 2016

Pulang

Malam membuat takut
Mimpi menyusuri lembut
Mengoyak jiwa yang tenang
Hingga surya benderang

Haus diri dengan kesejukkan
Ingin rasa menikmati pekan
Namun masa tak mendukung
Dan hanya membuatku bingung

Aku rindu bunda
Aku rindu ayah
Aku rindu semua

Maaf bila ku bagai burung
Yang semusim dapat pulang
Aku ingin jadi ayam
Di mana kandang tempat semayam

(Rifky Rizkiantino - 2016)

Monday, October 19, 2015

HUJAN KELABU

“Jika waktu mampu kuraih. Akan kuputar ulang layaknya lagu yang terlantun sedari tadi dalam playlist ponselku ini. Agar kutahu semua dapat berubah menjadi indah. Bukan menjadi air mata dan kesenduan. Hingga anak cucu kita dapat meneruskan mimpi yang selama ini kita lukiskan dalam kotak kayu kehidupan yang kita bangun bersama.”

Aspal yang lima menit lalu masih berwarna kelabu dan penuh debu, sekarang berubah menjadi sedikit hitam dan basah. Dihiasi air yang berkumpul bersama membentuk genangan yang dapat menyejukkan jemari insan yang tak sengaja membuyarkannya. Tak terasa aku pun sudah 2 jam duduk sendiri pada sudut cafe ini. Melihat perubahan langit senja menjadi hitam dan mendung. Melihat tetesan air langit yang saling berkejaran, berlomba menyentuh aspal kelabu di bawahnya. Membawa efek bianglala dan kesejukan bagi Sang aspal dan manusia yang sendu. Sesekali menyeruput cangkir kelima cappucino hangat yang baru lima menit tadi kupesan. Menikmati roti bakar coklat sambil memandangi anak-anak kecil dari jendela cafe saling berebut menjajakan payung pada siapapun yang lewat.
Waktu yang dulu pernah kulewati bersamanya. Di sudut cafe yang sama. Pada momen yang sama. Masih sangat kuingat suara berat khas pria yang ia punya saat memanggil pelayan untuk mencatat pesanannya yang sangat jarang berubah apabila kita menghabiskan waktu makan malam berdua di cafe ini. Aktivitas yang ia lakukan saat menunggu pesanan hingga datang pun selalu membuatku tak terasa jemu. Bermain mencari plat nomor kendaraan yang lewat. Ya, memang terlihat seperti anak kecil. Namun itu justru membuatku semakin mengenalnya. Saat di mana aku selalu kalah olehnya, tapi ia selalu tak ingin aku terlihat kalah dan akhirnya ia selalu mengalah agar aku selalu memenangi permainan kami itu. Hingga tak terasa jus melon dan muffin dengan taburan kismis pesanannya serta cappucino hangat dan roti bakar coklat pesananku tiba di atas meja kayu itu.
Memang benar apa kata orang, hujan merupakan kondisi yang dapat membawa kenangan dan angan masa lalu muncul kembali bersama dengan air yang menetes dari langit. Hujan di malam ini pun berhasil dengan suksesnya mengingatkanku akan semuanya.

***

 Pagi di hari minggu ini ku isi dengan jadwal jaga di IGD rumah sakit tempatku menimba ilmu. Aku merupakan mahasiswi kedokteran tingkat akhir yang sedang menjalani kepaniteraan klinik pada bagian bedah dan saat ini merupakan jadwalku untuk berada di IGD. Menjadi seorang mahasiswi kedokteran di bagian ini bagaikan kumpulan mimpi buruk yang bersatu membentuk kenyataan. Setiap saat, setiap sekian jam sekali aku harus dihadapkan dengan kasus kegawatdaruratan di mana anak kecil, bapak-bapak, preman, atau pria manula silih berganti masuk dengan berbagai macam luka gawat serius yang harus kami tangani. Seakan darah merah itu sudah tak mampu membuatku bergidik seram. Hanya ada ruang hampa dalam otak yang terus berpikir bagaimana caranya menangani tiap kasus yang ada.
Jam istirahat makan siang yang tidak seberapa pun kumanfaatkan hanya untuk sekedar merebahkan badan di bangku taman rumah sakit dekat dengan ruang IGD. Sesekali menyeruput teh kemasan yang kubeli di kantin tadi. Hingga dering telepon dari ponsel ku cukup mengagetkan dan membuatku terjatuh ke permadani rumput hijau di bawahnya. Nama yang tak asing dalam memori muncul di layar ponselku. Nama seseorang yang memang membuatku lelah belakangan ini. Lelah dengan semua drama dan konflik batin yang ada antara aku dan dia. Nama dari seorang pria yang sudah 5 tahun ini mengisi ruang dalam hati ini. Namun tiap kali kuingat kebohongan yang ia gunakan untuk menutupi kesalahannya di masa lalu itu membuatku sedikit enggan untuk menjawabnya.
“Halo, Nin. Nina? Aku cuma mau minta maaf sama kamu soal kondisi yang membuatmu salah paham 3 minggu yang lalu. Aku mau jelasin semuanya. Sore ini kamu ada waktu?” suara seorang pria di seberang sana yang sangat kuhafal. Lagi, untuk kedua kalinya aku enggan untuk menggubris apa yang pria itu katakan beberapa detik yang lalu.
“Halo, Nin? Kamu denger aku kan? Sore ini kamu pulang jaga jam berapa? Aku jemput kamu di rumah sakit ya. Sekalian kita makan malam di cafe biasa. Gimana?”
“Sa, kita lebih baik ga usah berhubungan lagi. Biarkan sifat ingin tahumu terhadap wanita lain kamu teruskan saja. Tapi maaf, aku ga bisa menunggu dan mendengar bualan klasikmu itu untuk menjelaskan kondisi yang sudah terlanjur aku patri dalam ingatanku. Aku rasa, gestur wanita yang bersamamu kemarin itu sudah menjelaskan semuanya. Aku seorang wanita dan aku tahu bagaimana seorang wanita yang sedang jatuh cinta. Tatapan dan rangkulan wanita itu adalah dua hal sama yang aku lakukan padamu”, entah kenapa bibir ini seakan tak terkontrol menumpahkan semua isi otak yang selama ini mengganjal dan hanya dilampiaskan dengan menghindar darinya saja.
      “Nin, kamu rupanya belum paham. Aku ingin kita bicara. Aku sekarang ke tempatmu ya? Biar kutunggu sampai jam jagamu selesai. Ok?”, kata pria itu.
“Sekarang ini bukan tentang aku dan kamu lagi. Ini tentang kita. Tentang keluarga dan orang tua kita. Kamu lupa, bulan depan itu hari bahagia yang kita tunggu selama 5 tahun ini? Jadi aku mohon kamu sedikit bersikap dewasa. Izinkan aku buat menyelesaikan ini semua dan membuat kamu percaya.”, lanjutnya.
“Mahesa, saat api sudah membakar kayu yang kering. Tak mungkin kayu itu akan selamat dan tidak berubah menjadi abu. Jadi aku mohon. Lebih baik kita sudahi semuanya. Biar ga ada lagi hati yang harus hancur.” Seiring kata terakhir yang kuucap, kumatikan juga percakapan ponsel tersebut. Aku pun kembali dengan segera ke tempatku semula di IGD.

***

“Ibu, aku mau pergi sebentar ya. Ingin menjemput Nina.”, pamit Mahesa terburu-buru pada seorang wanita paruh baya yang sedang sibuk memotong kentang untuk makan malam itu.
“Kamu kenapa lagi sama Nina, Sa? Mbok ya jadi cowo itu jangan suka menyakiti perasaan wanita. Inget, ibumu ini juga wanita. Kita semua sama. Butuh pengertian dan kepercayaan. Sekali kepercayaan seorang wanita sirna pada seorang pria. Sulit baginya untuk percaya denganmu lagi”, ibunya bernasihat.
Mahesa yang mendengarkan dengan penuh perhatian itu memahami apa yang ibunya katakan. Seusai pamit kembali pada ibunya, ia pun langsung bergegas pergi untuk segera bertemu dengan Nina. Wanita yang selama 5 tahun ini menemaninya mewarnai kotak kayu kehidupan yang ia bangun bersamanya.
“Bu, mas Mahesa mau kemana? Kok buru-buru banget keliatannya?”, tanya Saraswati, adik Mahesa.
“Oh, itu. Mau pergi ke rumah sakit. Ketemu mba Nina”,  jawab ibu.
“Tapi itu helmnya mas ketinggalan ya?”, tanya Saras.
“Hheh? Iya ya? Mungkin lupa. Ya sudah, cepat telepon mas mu sana. Keburu jauh nanti.”
“Baik, Bu.”

Lebih dari 6 kali Saras mencoba menghubungi kakaknya. Namun tak ada jawaban yang berarti. Hanya kotak suara saja yang menyapa.

“Gimana Sar? Ada jawaban dari mas mu?”, tanya ibu.
Engga ada, Bu. Mungkin sudah jauh dan sedang berkendara. Nanti 10 menit lagi Saras coba hubungi”, jawab Saras.
“Oh, ya sudah kalau begitu. Kamu bantuin ibu sini masak buat makan malam”
“Iya, Bu.”

Meski hujan turun, Mahesa tetap meneruskan perjalanannya mengendarai sepeda motor ke rumah sakit di mana Nina sedang tugas. Menembus tirai air di sepanjang jalan menuju rumah sakit membuatnya basah dan menggigil. Riuh berantakan pikirannya saat ini. Hingga semuanya pun terlupakan. Hanya keinginan cepat sampai di tujuan menjadi pikiran utamanya. Tak peduli dengan apapun. Keinginan untuk bertemu dengan kekasihnya dan menyelesaikan semua ini merupakan prioritasnya.
Namun sayang, pikirannya yang kacau membuatnya melupakan logika. Ia menerobos perlintasan kereta listrik di salah satu palang pintu kereta yang saat itu sedang ada kereta yang ingin melintas. Tubuh tegapnya kini menjadi lemah dan terseret 100 meter dari tempatnya dihantam oleh kereta tersebut. Darah segar bercampur tetesan air hujan mengalir mewarnai wajah, pakaian, dan jaket kulit yang dipakainya hingga sulit mengenalinya lagi. Keramaian dan kemacetan pun tak dapat dielakkan. Puluhan orang berkumpul riuh mencoba menolong di tengah derasnya hujan. Seorang wanita pengendara mobil dengan spontan menawarkan mobilnya untuk membawa Mahesa ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di sana, raga kosong itu pun langsung dilarikan ke IGD.
“Dokter, tolong ini korban kecelakaan kereta di pintu perlintasan kereta sana”, salah satu orang pengantar Mahesa mulai sedikit menjelaskan apa yang terjadi.
“Mohon maaf, pak. Apa ada sanak keluarganya?”, tanya salah seorang dokter jaga.
Engga, dok. Kami semua cuma nganterin aja, tapi mungkin masih bisa ditolong”, kata wanita yang tadi menawarkan mobilnya.
Dengan segera dokter tersebut menghampiri jasad yang sepertinya memang tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan padanya.
“Koass segera ikut saya tangani ini”, titah dokter tadi yang sepertinya merupakan dokter senior di ruangan itu.
“Baik, dok”, jawab salah seorang wanita muda berjas putih berlengan pendek dengan papan nama yang terkait rapi pada kerah jasnya.
Saat dokter muda itu melihat jasad kaku di depannya. Ia pun terlihat histeris. Keadaan kacau saat itu semakin menjadi sendu saat teriakan histeris yang diikuti dengan isak tangis wanita tadi memecah bisingnya deras hujan di luar sana. Dia lah Nina, yang mengenali jasad itu sebagai kekasihnya, Mahesa, yang akan meminangnya. Bukan dari pakaian atau wajah yang sudah terlumuri darah yang mulai membeku itu ia dapat mengenalinya, tapi dari gelang manik kayu yang tersemat di pergelangan tangan kiri jasad tersebut. Gelang yang ia berikan pada Mahesa di hari ulang tahunnya tepat satu bulan yang lalu. Kekasih yang 2 jam lalu masih dapat terdengar suaranya dan meminta untuk bertemu dengannya di telepon.
Melihat Nina yang lemas dan histeris, sang dokter senior memerintahkan koass lain untuk membawanya pergi dari ruangan itu. Dibantu oleh beberapa paramedis, ia pun dibawa ke ruang istirahat dokter jaga. Hingga semuanya buyar dan hujan pun makin deras. Seakan membaca kondisi haru saat itu. Kondisi yang manusiawi bahkan untuk seorang penyelamat nyawa sekalipun. Namun pada akhirnya Mahesa pun bertemu dengan Nina sesuai dengan janjinya, walau dalam kematian dan hujan.

***

Tepat tujuh hari sepeninggal Mahesa, Nina pun pergi mengunjungi rumah Mahesa untuk menghadiri pengajian untuk kekasihnya itu. Keadaan haru yang mulai menipis menguatkan Nina dalam prosesnya memaafkan diri. Di sela-sela mempersiapkan makanan yang akan diberikan pada tamu yang hadir, Saras pun sedikit banyak mengobrol dengannya.
“Oh iya, mba. Ada yang ingin diberikan buat mba. Sebentar ya Saras ambilkan dulu”, ungkap Saras disela-sela obrolan yang telah dibangun sejak tadi. Saras pun bergegas pergi menuju kamar Mahesa dan kembali membawa sebuah paper bag kecil bermotif batik.
“Sebenarnya aku ga sengaja nemuin ini di kamarnya mas waktu bersih-bersih dua hari yang lalu. Tapi kayaknya ini memang haknya mba Nina”, kata Saras sambil mengeluarkan kotak kecil berisi dua buah cincin perak yang memiliki ukiran yang sama dari paper bag tersebut. Salah satu sisi di tiap cincin itu pun juga terukir inisal M&N yang sama.
     “Mas Mahesa juga pernah cerita ke aku kalau sebenarnya mau kasih ini ke mba waktu ulang tahunnya dia. Tapi akhirnya dia urung buat melakukannya. Tunggu sampai nanti pas di hari pernikahannya aja katanya.”, Saras diam sejenak. “Tapi sayang ya mba. Mas Mahesa akhirnya ga bisa ngasih ini secara langsung ke mba”, lanjutnya.
      Air mata yang sedari tadi terbendung berat di kelopak matanya, ternyata tak sanggup untuk bertahan lagi dan akhirnya membuat pola mengalir di atas pipi Nina. Seperti sedang menonton kembali rekaman hidup terdahulu membuatnya tak sanggup untuk segera mengeringkan air matanya. Berjalan menelurusi hari kemarin. Mengumpat dan menyalahkan diri serta melakukan hal lain yang jelas sangat tak membantu memperbaiki semuanya. Hanya sesal dan kelabu yang tertinggal.

                                  ***

Satu jam pun kembali berlalu. Akhirnya tepat tiga jam aku terpaku diam menelusuri masa lalu. Piring yang sejam lalu masih terhias oleh roti bakar coklat yang indah dan menggugah selera sekarang hanyalah sebuah piring kosong dengan remah roti dan selai coklat yang tak bermotif mengotori permukaannya. Cangkir cappucino pun kembali bertambah memadati meja kayu ini. Hujan pun sedikit lebih bersahabat. Hanya menyisakan udara sejuk malam hari dan genangan air. Aku pun bergegas untuk menyudahi hiburan pribadiku ini dan segera kembali ke rumah. Setelah ku membayar semuanya, aku pun menuju keluar cafe. Cafe yang karenanya aku berjanji inilah hari terakhirku untuk mengunjunginya. Mengubur semua kenangan yang ada bersamaan dengan hujan yang berhenti. Menyambut asa baru seiring mentari yang akan bersinar besok.
Saat aku ingin masuk ke mobil, kulihat dua buah sepeda motor saling bertabrakan dan membuat kedua pengendara jatuh dan menghantam aspal jalan di seberang tempat ku parkir. Seorang bapak menjelaskan kecelakaan itu mungkin disebabkan oleh jalanan yang licin sehabis hujan sepanjang sore tadi. Kembali aku bergegas menuju tempat kerumunan tersebut dan memberikan sedikit pertolongan yang merupakan salah satu kewajibanku sebagai seorang dokter. Beruntung kedua pengendara tersebut masih dapat diselamatkan. Walaupun salah satunya harus menempuh tindakan operasi orthopedi karena tulang pahanya yang sedikit retak. Setelah semuanya usai dan korban sudah ditangani di rumah sakit terdekat, aku baru benar-benar pergi menuju tempatku beristirahat. Menutup hari dengan diskusi terhadap diri sendiri bahwa semua sudah berjalan sesuai dengan semestinya. Dan damai dengan diri sendiri juga merupakan hal yang tepat dalam memahami masa lalu. Menapaki jalan baru dan masa depan yang harus dibangun kembali dengan yang lain. Selamat jalan Mahesa. Maafkan aku. Semoga kau tenang di sana. Semoga kau mau menunggu hingga kita disatukan kembali karena ini bukanlah perpisahan yang sebenarnya, bukan?

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com

Friday, June 6, 2014

Hujan

Hujan
Rintik air menyelimuti tanah
Bumi basah dengan wangi khas
Awan kelabu mengikuti langkahnya
Langkah mungil dengan tapakan ringan
Melawan kerasnya lantai kehidupan

Hujan
Suara gemuruh menghiasi langit
Saling ego pertahankan sendu
Hidupnya bagai daun yang membasah
Basah karena air dari surga

Hujan
Payung hitam terkembang sayapnya
Seperti pohon akasia yang melindungi tidurnya

Aku ingin hujan
Aku ingin basah

Berlari di bawah awan kelabu itu
Dan tak bosan kubertanya pada air
Air yang jatuh dari surga
Pertanyakan pada petir dan gemuruhnya

Aku ingin bebas
Aku ingin hilang

Layaknya air yang jatuh dari surga

- Rifky Rizkiantino '14 -

Thursday, June 5, 2014

Ada Apa Dengan Cinta

Perempuan, datang atas nama Cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu
Yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya?
Meninggalkan hati untuk dicaci

Lalu sekali ini aku lihat karya surga dari mata seorang hawa
Ada apa dengan Cinta?
Tapi aku pasti akan kembali
Dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya

Bukan untuknya,
Bukan untuk siapa, tapi untukku
Karena aku ingin kamu
Itu saja.

Puisi tokoh "Rangga" dalam film "Ada Apa Dengan Cinta"

Wednesday, January 9, 2013

Aku Ingin Bersama Selamanya

Ketika tunas ini tumbuh,
Serupa tubuh yang mengakar,
Setiap nafas yang terhembus, adalah kata

Angan debur dan emosi bersatu dalam jubah terpautan
Tangan kita terikat,
Lidah kita menyatu,
Maka setiap apa terucap adalah sabda pentitah Ratu
Diluar itu pasir,
Diluar itu debu,
Hanya angin meniup saja,
Lalu terbang hilang tak ada

Tapi kita tetap menari,
Menari cuma kita yang tahu
Jiwa ini tandu, maka duduk saja,
maka akan kita bawa, semua
Karena
Kita
Adalah
Satu

#Puisi tokoh "Cinta" - Ada Apa Dengan Ingin Cinta

Aku

Ku lari ke hutan, kemudian menyanyiku
Ku lari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi, sepi dan sendiri aku benci
Aku ingin bingar
Aku mau di pasar
Bosan aku dengan penat
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika ku sendiri
Pecahkan saja gelasnya biar ramai
Biar mengaduh sampai gaduh
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya
Biar terdera, atau
Aku harus lari ke hutan belok ke pantai?

- Sumandjaja -

Sunday, December 9, 2012

Asa Kehidupan

Ketika mata melihat 5 jari kecil lemah
Rasa angan berlari di impian
Hidup itu mewah
Hidup itu enak
Walau saat berat tak bisa dipikul
Namun hembus angin menguatkan
Topang hati yang lemah dengan berat


Diri tak diubahnya menjadi ulat
Yang tertimpa ranting, namun tak bisa lari
Saat hitam itu muncul
Membuat 5 jari itu resah
Namun senyum dengan Tuhan


Warna murni tak sanggup membagi sakit
Tak sanggup melawan takdir
Tak sanggup menopang asa
Namun 5 jari tegar
Tak gentar melawan hitam
Melihat itu, putih berdiri
Tanggalkan saja resah, biar lepas, hilang dalam penat


Ada satu benang, yang tak dapat dipintal oleh laba-laba suci
Satu benang bening mungil, namun tak bisa tangan meraba
Benang bening Tuhan yang tidak dijual


Kini 5 jari hilang sendu
Hingar suara tak lagi didengar
Namun bunga kusam
Tetap tebar benih asa kehidupan

Rifky Rizkiantino '12


*puisi yang didedikasiin buat Kiara, anjing yang waktu itu sempet dirawat kemudian meninggal karena penyakitnya :-(