Cursor

SpongeBob SquarePants Mr. Krabs
Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Friday, March 20, 2020

Penggunaan Antibiotika yang Bijak pada Hewan Peliharaan untuk Menjaga Kesehatan Semesta

Sebagai seorang dokter hewan yang pernah berpraktik dalam bidang satwa akuatik dan hewan kecil, seperti anjing dan kucing, banyak sekali dari klien saya yang membawa hewan peliharaannya dengan kasus-kasus penyakit infeksius yang tak lepas dari infeksi saluran pernapasan, gangguan pencernaan, dan beberapa kasus lain seperti pus atau adanya luka bernanah pada beberapa bagian tubuh. Pada saat itu banyak sekali pasien-pasien dari jenis kucing yang menderita penyakit infeksius dan saya resepkan antibiotika sebagai obat untuk menyembuhkan infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Infeksi saluran pernapasan menjadi primadona kasus yang banyak saya temui dan tak jarang memasukkan obat dari golongan antibiotika sebagai talaksana penyakit tersebut. Sama seperti dokter manusia, kami para dokter hewan pun selalu melakukan edukasi kepada klien terhadap kondisi yang sedang dialami oleh hewan peliharannya. Termasuk pendidikan dalam memberikan antibiotika secara teratur untuk kesembuhan pasien. Sebagian dari klien dapat memahami instruksi-instruksi yang saya berikan bahwa untuk memberikan antibiotika tidak boleh sembarangan dan harus tepat waktu serta harus dihabiskan. Akan tetapi, tidak sedikit klien juga yang terkadang acuh tak acuh dan sulit untuk disiplin dalam meminumkan obat untuk hewan peliharaannya. Tidak jarang setelah waktu obat yang seharusnya habis, namun banyak klien yang kembali datang ke meja praktik dengan keluhan hewan peliharaannya belum sembuh dan meminta obat lain yang khasiatnya cepat untuk menyembuhkan penyakit. Padahal ketika saya tanya, apakah antibiotikanya sudah diberikan secara tepat waktu dan kontinu hingga habis. Jawaban yang banyak ditemui pun mengaku sulit untuk meminumkan obat kepada hewannya, atau lupa memberikan, atau sangat sibuk sehingga obat yang diberikan tidak teratur. Mendengar hal tersebut, saya pun selalu tersenyum dengan lemas dan kembali menjelaskan mengenai kondisi yang akan terjadi apabila antibiotika tidak diberikan dengan disiplin dan tidak sesuai jadwal, termasuk bahaya akan terjadinya resistensi antibiotika.

Resistensi antibiotika merupakan sebuah fenomena di mana jenis antibiotika sudah tidak mampu lagi untuk membunuh atau bahkan hanya sekedar menghambat pertumbuhan bakteri. Fenomena ini sudah banyak dikaji dalam bidang kesehatan karena dampak yang ditimbulkan sangat mengkhawatirkan dan membahayakan bagi kesehatan manusia. Resistensi antibiotika terjadi akibat banyaknya penggunaan salah satu golongan obat ini yang kurang bijak di tengah-tengah masyarakat. Para tenaga kesehatan yang diberikan kewenangan untuk melakukan transaksi terapeutik pun sudah memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat tentang bagaimana cara mengonsumsi antibiotika yang baik dan benar. Namun, masih banyak masyarakat yang tidak mengindahkan saran medis yang diberikan. Sehingga kejadian resistensi antibiotika pun banyak ditemukan di lapangan dari hasil penelitian yang telah dilakukan.

Sebagai seorang pencinta hewan yang bertanggung jawab, membawa hewan peliharaan Anda untuk mendapatkan pengobatan yang sesuai oleh dokter hewan sudah menjadi sikap yang sangat bijak. Namun, alangkah lebih baik lagi setiap obat yang diresepkan oleh dokter hewan kepada hewan peliharaan tercinta hendaknya diberikan sesuai dengan takaran dan waktu pemberian yang telah dijelaskan oleh dokter hewan sebelumnya. Jangan ragu kembali bertanya kepada dokter hewan yang tengah menangani hewan peliharaan Anda apabila mendapatkan kesulitan atau lupa terhadap dosis dan aturan pakai dari obat tersebut untuk menghindari kesalahan dosis yang dapat menimbulkan efek samping, baik bagi hewan peliharaan maupun lingkungan sekitarnya.

Resistensi antibiotika sendiri terjadi karena adanya pengobatan terhadap infeksi bakterial menggunakan preparat antibiotika yang tidak tepat dosis maupun tepat waktu pemberiannya. Kerja antibiotika sendiri digolongkan menjadi antibiotika yang bersifat bakteriostatik atau hanya menghambat pertumbuhan sel-sel bakteri saja dan bersifat bakteriosidal atau mematikan sel-sel bakteri. Apabila antibiotika yang bersifat bakteriosidal diberikan kepada hewan peliharaan Anda dengan dosis yang kurang secara terus-menerus atau tidak tepat waktu pemberiannya, maka akan membuat beberapa sel bakteri tidak mati seluruhnya dan meninggalkan generasi sel bakteri yang beradaptasi terhadap keberadaan antibiotika tersebut. Kondisi tersebut menjadi trigger terhadap sel bakteri yang mampu bertahan hidup untuk mengaktifkan gen resisten di dalam materi genetiknya agar memproduksi senyawa atau mengubah protein struktur selnya menjadi tidak dikenali lagi oleh molekul antibiotika. Dalam tahap ini, bakteri sudah mampu untuk melindungi dirinya dari ancaman keberadaan antibiotika. Sehingga pengobatan menggunakan antibiotika dari jenis tersebut sudah tidak mempan dan tidak berhasil lagi menahan atau membunuh sel-sel bakteri. Pada akhirnya, bakteri yang mampu bertahan hidup akan membelah diri dan menghasilkan generasi bakteri yang memiliki gen penyandi resistensi terhadap antibiotika yang tengah digunakan.

Bahaya akan generasi bakteri yang adaptif terhadap antibiotika pun tidak hanya sampai di situ saja. Bakteri yang memiliki potensi resisten dapat memberikan gen resistensinya kepada sesamanya atau berlainan spesies bakteri. Hal ini sangat memungkinkan karena bakteri memiliki komponen materi genetik atau DNA yang dapat bergerak (mobile genetic) dan berpindah secara mudah dan tersisipkan pada materi genetik bakteri lain. Mobile genetic yang banyak berperan dalam kejadian resistensi antibiotika dapat berupa plasmid, integron, ataupun transposon. Ketiganya merupakan istilah DNA yang dapat berpindah dengan mudah. Apabila gen resisten yang telah dimiliki oleh bakteri penyebab penyakit pada hewan peliharaan Anda aktif, maka bakteri tesebut dapat “menularkan” kemampuan resistensinya tersebut ke bakteri lain dalam satu jenis atau bahkan berlainan jenis. Kondisi semakin mengkhawatirkan apabila gen resisten tersebut “ditangkap” oleh bakteri-bakteri baik pada lingkungan atau mikroflora normal yang terdapat di dalam tubuh hewan peliharaan maupun diri Anda. “Tongkat estafet” dari gen resisten tersebut akan terus menerus diberikan kepada bakteri-bakteri lain hingga memungkinkan suatu saat nanti apabila Anda maupun anggota keluarga lain di rumah mengalami sakit dan diberikan pengobatan antibiotika yang sama dengan sebelumnya diberikan kepada hewan peliharaan maka akan berpotensi sulit untuk sembuh dan memerlukan dosis tambahan atau alternatif antibiotika lain yang golongannya lebih tinggi. Padahal jika kita ketahui, penelitian mengenai kandidat antibiotika baru di dunia tidak lebih cepat jika dibandingkan munculnya sifat dari gen-gen resistensi antibiotika yang ada.

Begitu juga halnya jika Anda seorang hobbist dari ikan-ikan hias. Ikan hias kesayangan yang sakit memang sudah pasti membuat kita sebagai pemilik merasa resah dan ingin menyembuhkan. Namun, obat-obat ikan yang dijual dan beredar di toko-toko akuarium di Indonesia pun masih belum memiliki komposisi baku. Regulasi hukum terhadap peredaran obat ikan yang teregistrasi dan dikeluarkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia masih belum dapat diindahkan oleh para penjual di toko ikan. Masih rendahnya kesadaran masyarakat akan bahaya dan ancaman resistensi antibiotika menjadikan hal tersebut masih banyak ditemui di lapangan. Bagi para hobbist, komunikasi antarpecinta ikan hias menjadi salah satu sarana dalam bertukar informasi mengenai pengobatan ikan peliharaannya. Tak jarang menggunakan obat ikan yang belum teregistrasi oleh otoritas veteriner yang membawahi bidang medik akuatik maupun Kementerian Kelautan dan Perikanan, dimana komposisinya bisa saja mengandung beberapa antibiotika yang jenis, dosis, dan aturan pakainya tidak jelas terpampang dalam kemasannya yang berbahasa asing. Kondisi ini juga menjadi sebuah potensi berkembangnya resistensi antibiotika di bidang perikanan akibat tidak bijaknya masyarakat dalam memperhatikan jenis obat apa yang mereka gunakan untuk pengobatan ikan. Berbagai penelitian mengenai deteksi gen resistensi antibiotika asal bakteri penyebab penyakit pada ikan sudah menjadi bukti ilmiah bahwa potensi resistensi antibiotika dapat ditemukan pada berbagai lingkungan, tidak terkecuali di lingkungan perairan. Sama halnya dengan skenario “tongkat estafet” gen resistensi antibiotika yang dijumpai pada hewan kesayangan di darat, bakteri di perairan akan dengan mudah mengalir menuju aliran air lain yang ada di sekitarnya. Air sisa menguras atau menyifon (menyedot kotoran dari dasar kolam atau akuarium), ikan mati yang bisa saja mengandung bakteri dan langsung dibuang ke saluran pembuangan air umum, atau air sisa membersihkan filter kolam maupun akuarium bisa menjadi sumber bakteri perairan yang mungkin saja dapat menyebarkan gen resisten pada bakteri-bakteri lain di lingkungan. Yang akhirnya mampu memberikan efek pada kesehatan manusia karena gen resisten tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.

Manusia telah sangat dekat berdampingan hidup dengan hewan, terutama hewan peliharaan yang dapat sakit dan diobati. Konsep one health dapat diterapkan sebagai suatu acuan untuk menjaga kesehatan semesta, yaitu kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Adapun langkah yang bijak dan dapat diambil untuk mencegah isu resistensi antibiotika ini menjadi semakin mengkhawatirkan bagi para pecinta hewan adalah hendaknya mengikuti aturan pakai obat-obatan yang telah diresepkan, terutama antibiotika; selalu berkonsultasi terlebih dahulu pada dokter hewan Anda apabila akan memberikan antibiotika; perhatikan waktu pemberian antibiotika pada hewan kesayangan Anda. Sebagai contoh, apabila dalam aturan pakai dikatakan harus diminumkan 2 kali sehari maka yang dimaksud adalah pemberian antibiotika berselang 12 jam sekali dalam waktu 24 jam. Jika obat pertama diberikan pada pukul 6 pagi maka harus diberikan kembali pada pukul 6 petang; dan yang terpenting adalah selalu habiskan antibiotika pada hewan kesayangan Anda sehingga tidak memberikan celah bagi bakteri untuk tumbuh dan mengembangkan sifat resistensinya.

Bagi para pecinta ikan hias, adapun langkah nyata yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi kejadian resistensi antibiotika adalah selalu menggunakan obat-obatan yang telah terdaftar di Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia; selalu berkonsultasi terlebih dahulu oleh dokter hewan praktisi satwa akuatik apabila ingin menggunakan obat-obatan atau antibiotika tertentu di akuarium atau kolam Anda; serta selalu mendesinfeksi terlebih dahulu semua air asal akuarium atau kolam Anda, baik dari sisa mencuci filter maupun hasil menyifon, sebelum dibuang ke dalam saluran pembuangan air umum sehingga tidak ada celah bagi bakteri untuk mengontaminasi perairan yang lebih luas lagi.

Dengan memperhatikan semua anjuran yang ada secara seksama, kita telah membantu menjaga kesehatan semesta. Memelihara hewan bukanlah suatu perkara yang dilarang, namun adanya kebiasaan-kebiasaan buruk yang berdampak pada kesehatan manusia haruslah dihindari dan selalu menjadi fokus perhatian agar keluarga terdekat maupun lingkungan sekitar kita tetap sehat dan terhindar dari masalah kesehatan yang lebih luas lagi, seperti masalah resistensi antibiotika ini.

Saturday, May 20, 2017

Sistem Pendidikan di Indonesia


(Source: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNFLX0DfdxaQuhgh-488ngrcuXBRuFMqsbkuFriL8KW5JR9_FrRcjpA2nz-U2qlpJ9nJJrlnd2Tt77GMcrc9wO_FqLokupLB_7DmFD5l70mEgPbyxDcQNP3ivxCy776ccEhp2wsnjAcdTa/s1600/logo.jpg)


Pendidikan Indonesia memang masih merangkak untuk bisa dikatakan maju, seperti negara-negara lainnya. Walaupun memang kita tidak bisa mengatakan bahwa pendidikan di negara ini buruk karena mungkin masih ada yang lebih buruk sistemnya dari kita.

Tulisan ini cuma sekedar buah pikiran saya mengenai pendidikan di Indonesia, dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, yang pernah saya tempuh. Karena sebenarnya bukan maksud buat mencibir, melainkan hanya ingin mengeluarkan uneg-uneg yang ada di dalam otak sebagai seorang pelajar dan mungkin sebagai (calon) pengajar.
Dari pendidikan dasar saya bersekolah di sekolah negeri dan hingga jenjang universitas pun juga diberikan kesempatan buat mengenyam di universitas negeri terkemuka di Indonesia. Apa yang saya rasakan dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi dengan atmosfer "negeri" banyak hal yang bisa saya dapat. Mungkin sebagian masyarakat Indonesia punya alasan yang lebih kurang sama dengan saya "kenapa memilih masuk sekolah negeri ketimbang sekolah swasta?"

Jawabannya mungkin karena biaya di sekolah negeri relatif lebih terjangkau ketimbang biaya sekolah swasta. Karena hal itu masyarakat, termasuk saya, berbondong-bondong berusaha agar bisa diterima di sekolah negeri yang notabene milik pemerintah sehingga bantuan biaya pemerintah terhadap operasional pendidikan di sekolah negeri dapat diperoleh. Hal inilah yang membuat biaya di sekolah negeri lebih terjangkau.

Selama saya bersekolah, murid di sekolah negeri relatif mendapatkan perhatian yang rata dari gurunya. Walaupun ada beberapa kasus yang mengecualikan, seperti murid yang pandai pasti akan lebih dikenal oleh guru atau murid yang banyak berulah nakal juga pasti akan lebih diperhatikan guru. Tidak jarang, hanya segelintir murid saja yang bisa dekat secara personal dengan seorang guru.

Kompetisi di tiap jenjang pendidikan juga sedikit sekali berbeda. Murid berlomba-lomba untuk jadi peringkat satu di kelas. Tujuannya tidak lain hanyalah untuk menunjukkan bahwa dirinya lah yang paling hebat dan pastinya bisa menjadi buah pembicaraan orang tua dalam membanggakan anaknya pada tetangga. Mungkin alasan kedua juga menjadi pendorong mengapa universitas negeri menjadi primadona bagi mantan siswa siswi SMA. Selain prestis yang tinggi jika kita diterima di perguruan tinggi negeri, kita juga secara tidak langsung sudah menunjukkan kalau kita bisa mendapatkan apa yang dibanggakan oleh orang banyak. Apalagi bisa diterima di jurusan yang punya tingkat "kehormatan" selangit. Sehingga tak jarang banyak yang mau mempertaruhkan apapun buat bisa diterima, termasuk menggunakan jalan yang justru bisa menurunkan derajat kehormatan itu.

Sistem pembelajaran di Indonesia yang dengan banyaknya bidang studi pun juga menjadi warna tersendiri buat para muridnya. Dari sekolah dasar bahkan hingga SMA, yang walaupun sudah ada 'penjurusannya', masih saja membebani muridnya dengan mata pelajaran pelengkap hingga belasan mata pelajaran yang di akhir pendidikan harus diujikan juga. Dan tak jarang mendidik kita buat "harus" bisa pintar di segala bidang, dengan dalih semua ilmu penting buat dipelajari.

Saya pikir, setelah masuk kuliah, stigma "cerdas di semua belasan mata pelajaran segudang" yang selama 12 tahun saya temui di pendidikan dasar dan menengah, tidak akan ditemui lagi di pendidikan tinggi. Tapi ternyata jangan berharap lebih terhadap sistem. Setiap dosen yang mengajarkan matakuliahnya selalu mengunggulkan bahan ajarnya kepada mahasiswa bahwa, "kalau kalian tidak menguasai ilmu ini, kalian tidak bisa menjadi penyembuh yang sempurna".

Memang tidak ada yang salah dengan kalimat itu. Apalagi jika didukung dengan jurusan bertipe profesi yang langsung berhubungan dengan nyawa seperti yang saya ambil saat ini. Namun sepertinya saya kurang dapat memahami mengenai kata-kata itu. Atau mungkin karena faktor saya nya yang tidak bisa mengikuti alur pendidikan profesi yang outputnya mencetak lulusannya dalam kompetensi umum?

Mungkin ini cuma rasa lelah individu dari seorang mahasiswa yang harus menjadi expert dalam tiap kompetensi profesinya dalam rentang waktu yang relatif singkat. Dan pasti banyak yang mencibir setelah membaca tulisan ini, "kalau tidak bisa mengikuti sistem ya keluar saja".

Saya hanya berpikir, bagaimana bisa seorang mahasiswa dengan kosong pengalaman dapat dicetak menjadi seorang ahli di 16 bidang hanya dalam kurun waktu 5.5 tahun? Ditambah lagi kemampuan teori lebih dominan terhadap praktik. Ini sudah terjadi sejak kita semua berada di SD, SMP, dan di SMA. Kenapa seorang murid SMA program IPA harus dipaksa memahami sejarah padahal sebenarnya dia punya ketertarikan lain di bidang sosiologi? Namun kalau dia ingin belajar sosiologi, pastinya dia harus mengambil program IPS karena sosiologi itu "kompetensi" nya program IPS. Dengan "sistem paket mata pelajaran" yang membatasi minat itulah yang membuat mahasiswa atau murid menjadi sangat terbatas dan kaku dalam menggali apa yang dia minati untuk dijadikan landasan dan motivasinya mengapa ia belajar sesuatu. Belajar karena senang dengan belajar karena terpaksa pasti akan sangat terlihat pada proses dan hasilnya. Bagai analoginya, "mengapa seorang penari harus mampu melatih indra perasanya kalau sebenarnya gerakan tubuh yang luwes lah yang harusnya ia kuasai dengan penuh semangat oleh seorang calon penari profesional".

Walaupun memang pada tingkatan pendidikan yang lebih tinggi, seperti master dan doktor atau program spesialis, nantinya akan lebih dispesifikasikan. Tapi, kenapa harus menunggu hingga master atau doktor? Apa karena alasan pada usia itu manusia bisa lebih matang sehingga lebih siap untuk menjadi ahli? Kalau iya, lalu kenapa pada saat jenjang pendidikan yang lebih rendah dari master atau doktoral, mahasiswa harus tampil sempurna dalam ujian di tiap bidang padahal kemampuannya pun sebenarnya belum mumpuni untuk menguasai satu bidang saja? Dan terkadang di saat ujian, mahasiswa seperti sedang mengadu ilmu dengan dosennya padahal sudah dipastikan ilmu Sang dosen lebih tinggi levelnya ketimbang mahasiswa yang mendapatkan kesempatan belajar di bidang dosennya itu pun sedikit karena harus berlomba dengan mata kuliah lain yang juga menganggap masing-masing dirinya penting dalam proses pendidikan.

Menurut pendapat saya pribadi, sudah barang tentu pemahaman mahasiswa jauh dari kata sempurna. Tak jarang salah dalam memahami suatu teori. Lalu ketika saat ujian mahasiswa tersebut salah, bagaimana? Apakah ada yang membenarkan letak kesalahannya? Bukankah itu adalah salah satu tugas seorang pengajar buat meluruskan pemahaman mahasiswa nya yang salah (ini di luar faktor mahasiswa itu memang malas belajar)? Tapi yang dirasakan oleh kebanyakan mahasiswa, nilai jelek atau ujian ulang lah yang pastinya akan diperoleh kalau kita tidak bisa perfect dalam menjawab pertanyaan. Padahal dosen tidak mengetahui bagaimana usaha maksimal dari mahasiswa itu untuk lulus dari kelasnya sesaat sebelum ujian dimulai.

Hal-hal semacam itu lah yang menurut saya mengapa pendidikan dan kualitas lulusan pada setiap bidang ilmu di Indonesia masih harus dievaluasi. Masih sedikit juga lulusan yang belum mencintai apa yang ia pelajari. Tanggung jawab seorang pengajar terhadap yang diajar memanglah berat. Proses belajar mengajar adalah proses transfer ilmu yang mana jika tidak benar, maka ilmu yang ditransfer tidak akan bisa terserap dengan sempurna. Tapi tanggung jawab itulah yang nantinya akan berperan dan memutuskan secara tidak langsung bagaimana seorang "pelurus" bukan "penerus" dicetak agar ilmu yang sudah ada dan berkembang di Indonesia tidak hilang dan dapat diteruskan ke generasi selanjutnya.

Saya jadi ingat kalimat dari tokoh pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara, yang berhubungan dengan bagaimana seorang pengajar harusnya bersikap terhadap orang yang diajarnya, dimana filsafat itu saya rasa saat ini sudah mulai dilupakan oleh para pengajar. Kalimat itu berbunyi:

Ing Ngarso Sung Tulodo: Di depan memberi teladan

Ing Madyo Mbangun Karso: Di tengah memberi semangat

Tut Wuri Handayani: Di belakang memberi dorongan.

Jadi secara tersirat Ing Ngarso Sung TulodoIng Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani memiliki arti: figur pengajar yang baik adalah disamping menjadi suri tauladan atau panutan, tetapi juga harus mampu menggugah semangat dan memberikan dorongan moral dari belakang agar orang-orang yang ia didik dapat merasakan situasi yang baik, semangat, dan bersahabat. Sehingga makna "mendidik" dan "mengajar" benar-benar dapat tersampaikan dengan baik. Dengan begitu, harapannya dunia pendidikan di Indonesia mampu mencetak para ahli yang bukan hanya pintar, tapi senang, kreatif, dan tertarik dengan bidang pekerjaannya kelak untuk memanfaatkan potensi besar bangsa ini.

Semoga nanti, jika saya punya kesempatan menggapai cita-cita saya menjadi seorang pengajar, saya akan berusaha untuk tetap teguh terhadap filosofi "guru" yang diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara.