Cursor

SpongeBob SquarePants Mr. Krabs
Showing posts with label Opini ku. Show all posts
Showing posts with label Opini ku. Show all posts

Tuesday, May 4, 2021

Bullying itu Parah Sih

Entah kenapa lupa tadi pagi pas banget saya baru membahas tentang fenomena bullying di masyarakat dengan orang spesial saya, terutama bulllying di sekolah sekolah.  Dan serius, ini menjadi topik yang kiranya perlu pengawasan oleh guru, orangtua murid, maupun sesama murid di sekolah. Karena ini sangat sangat menyakitkan dan akan selalu berbekas di pikiran para korban bullying.

Bullying di sekolah itu sepertinya sudah terjadi dari sekian puluh tahun ke belakang. Tapi istilah bullying baru booming pada beberapa tahun terakhir ini. Saya pun pernah jadi korban bahan bully (baik verbal maupun fisik, tapi memang kebanyakan verbal sih 😂) sewaktu di SD hingga SMP dulu. Kelemahan saya dalam mata pelajaran olahraga menjadi sasaran empuk untuk teman teman sebaya waktu itu untuk mengejek saya di sekolah. Apalagi di kalangan murid-murid pria lainnya. Dulu pernah, muka kecil saya terhantam bola sepak dengan kecepatan keras hingga saya terjatuh, namun tidak ada sama sekali murid atau bahkan guru olahraga yang mencoba menolong atau membawa saya ke UKS atau memberikan pertolongan dalam bentuk lain. Yang ada hanya tertawa renyah seakan saya ini badut yang sedang melucu. Hingga pada akhirnya sudut lapangan menjadi tempat favorit saya berdiam diri saat pelajaran yang paling dibenci itu datang setiap minggunya. Semata-mata hanya agar tidak ingin terkena hantaman bola lagi, tidak ingin tidak diajak main lagi, dan tidak ingin dikatakan anak lemah lagi. Tidak ada yang menginginkan saya menjadi teman satu tim mereka saat permainan olahraga waktu itu, seperti sepak bola dan sejenisnya. Sangat sedikit teman yang mau bergaul dengan saya, baik murid pria maupun wanita. Hingga kondisi bully itu terus berlanjut hingga SMP dengan alasan bully yang sama.

Namun beruntungnya di SMP dulu saya bertemu dengan Lingga Jaya Saputra dan di SMA saya ketemu dengan Setyowati. Dua orang sahabat saya waktu jaman sekolah menengah dulu. Saya mulai mengenal dan mulai merasakan bagaimana mempunyai kawan di sekolah. Hingga hari ini tetap menjadi orang-orang yang lebih dari sahabat di mata saya. Yang tahu saya baik buruknya, yang mengenal jeleknya saya.

Lebih dari 6 tahun bully-an itu saya rasakan. Hingga membentuk pribadi seorang Rifky kecil yang rapuh, cengeng, suka menyendiri, dan selalu malas kalau harus mengenakan seragam olahraga. Seakan olahraga menjadi monster menakutkan setiap minggunya dan hanya berharap saat jam pelajaran itu tiba saya sakit atau izin tidak mengikuti pelajaran.

Did you know? Ini lah yang hingga saat ini terekam dalam memori jangka panjang saya tentang stigma negatif saya terhadap olahraga, terutama permainan beregu dalam olahraga seperti sepak bola, basket, dan sebagainya. Membuat rasa percaya diri saya luntur dalam bidang ini hingga akhirnya saya tumbuh menjadi pribadi yang introvert dan takut untuk tampil di depan umum.

Namun beruntungnya sampai saat saya masuk ke SMA dan bangku kuliah, saya disadarkan oleh lingkungan tempat saya belajar bahwa setiap anak punya potensi dan keunggulannya masing masing. Saya mungkin memang lemah di olahraga, dan silahkan siapapun boleh mengejeknya. Tapi, semakin saya menggali potensi saya. Saya menjadi semakin percaya diri bahwa saya ternyata memiliki potensi dan ketertarikan besar dalam bidang lain. Hingga saya mampu buat membuktikan, bahwa bullying justru mendorong saya untuk mengenal siapa diri saya, apa yang saya suka, apa yang saya bisa, dan apa kelebihan saya.

Bukan berarti bullying menjadi pendorong seorang anak tumbuh berkembang ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Tapi yang ingin saya sampaikan bahwa bullying memang sangat berbahaya, hingga tak jarang ada anak yang ingin mengakhiri hidupnya karena tidak ada sama sekali mendapatkan dorongan positif dari lingkungan terdekatnya.

Saya adalah salah satu korban bullying di masa lalu yang tumbuh menjadi anak kecil yang tidak percaya diri di depan umum, pemalu, introvert, insecure, dan rendah diri seolah saya memang lebih rendah dibandingkan murid lain. Biarpun seiring berjalannya waktu saya tumbuh menjadi dewasa karena saya menemukan beberapa teman yang bisa menghargai saya sebagai manusia, namun rasa trauma, phobia, dan benci terhadap kerumunan orang banyak maupun terhadap sepakbola dan permainan beregu olahraga lainnya masih tetap ada di ingatan saya hingga hari ini. Beruntungnya sudah banyak kemajuan untuk mengontrol rasa phobia itu dan menjadi orang yang sedikit percaya diri.

Bullying itu berbahaya. Oleh karena itu, tolong. Stop kegiatan unfaedah bernama bullying di sekolah, terutama di sekolah sekolah dasar di mana murid pada usia tersebut sangat merekam apapun kejadian yang dialaminya di masa itu. Jaga adik adik, sepupu, keponakan, atau anak anda dari kegiatan bullying. Jangan sampai menjadi korban kegiatan bodoh ini. Responlah orang orang terdekat Anda yang mungkin mulai terlihat berubah atau bersikap aneh dari sebelumnya. Karena kita ga pernah tau, bagaimana kondisi mentalnya saat itu.

Please caring and loving each others, let's making a friendship, giving a big hug for everyone who need, and stop bullying.

Tuesday, August 25, 2020

Kebiasaan Ortu

Suka ada yang tanya, kecintaan gue sama baca buku atau nulis sesuatu itu dari mana sih asalnya?

Mungkin tanpa disadarin, kebiasaan bokap yang suka bawain majalah dari tempat kerjanya waktu gue SD sampe SMP buat gue baca di rumah jadi salah satu trigger gue suka baca bacaan apapun. Majalah yang suka dibawa justru bukan majalah hiburan, tapi majalah soal tempat kerja nya yang notabene adalah perusahaan transportasi taksi. Isinya ga akan jauh-jauh dari info perusahaan. Entah soal informasi pegawai bulan ini lah, kegiatan perusahaan, produk jasa layanan transportasi terbaru, dll.

Ada 1 buku yang paling gue inget sampe sekarang, dan bukunya masih ada di kamar di rumah. Buku berbahasa Inggris soal pengembangan diri yang bokap "pungut" di jok belakang taksi yang beliau beresin waktu jam kerja. Katanya itu punya penumpang "bule" yang ketinggalan dan ga ada yang klaim selama seminggu, akhirnya bokap bawa pulang trus dikasih ke gue buat gue baca.

Lahir dari keluarga biasa dan ga punya privilege, ngebuat gue ga sempet icip-icip kursus bahasa Inggris itu gimana. Bahan bacaan kek gitu sih yang jadi preferensi buat ngebiasain baca artikel bahasa Inggris.

Ketertarikan sama Harry Potter dari SMP justru sedikit ngasih hak istimewa ke gue kalo lagi pinjem buku di perpus SMP. Saking suka bolak-balik ke sana, mas-mas penjaga perpusnya sampe apal dan buatin kartu perpus cadangan karena suka abis di ttd buat diisi buku yang dipinjem. Alhasil, novel Harry Potter yang ada di lemari referensi dan ga bisa dipinjem sama siswa lain selalu diijinin buat dipinjem sama gue trus dibaca di rumah.
Sayang, sampe sekarang tinggal 3 judul lagi yang belum lengkap di rak buku kostan.

Oh iya, satu lagi.
Ada kebiasan gue dari kecil yang ga tau sih itu aneh apa emang orang lain juga lakuin pas nongkrong di kamar mandi.
Bacain satu-satu kemasan produk apapun yang ada di kamar mandi buat ilangin bosen di kamar mandi. Entah detergen, pembersih lantai, shampoo, sabun mandi, pasta gigi, dll. Suka bacain bahan aktifnya apa. Alamat PT nya di mana. Apa kegunaannya. Pertolongan pertama kalo keracunan produk itu gimana.
Gara-gara itu juga, pas pelajaran kimia kelas 1 SMP kebantu banget waktu ujian soal bahan kimia di rumah tangga 😂

Kalo nulis dan nyatet sesuatu, mungkin diturunin dari nyokap yang suka nyatetin pemasukan sama pengeluaran keluarga tiap hari.
Jadi ada kebiasaan nyokap di rumah, beli beberapa buku tulis. Buat ditulisin kas masuk-keluarnya uang.
Dari situ akhirnya jadi kebiasaan juga sampe sekarang ngikutin catet pemasukan sama pengeluaran uang tiap bulan. Sampe kadang nempelin struk belanja juga kek buat LPJ 😂

Berawal dari kebiasaan ortu yang kek gitu sepertinya, akhirnya gue nikmatin banget baca sesuatu apapun itu atau nyatet apapun, terutama soal pengeluaran.

Friday, March 20, 2020

Penggunaan Antibiotika yang Bijak pada Hewan Peliharaan untuk Menjaga Kesehatan Semesta

Sebagai seorang dokter hewan yang pernah berpraktik dalam bidang satwa akuatik dan hewan kecil, seperti anjing dan kucing, banyak sekali dari klien saya yang membawa hewan peliharaannya dengan kasus-kasus penyakit infeksius yang tak lepas dari infeksi saluran pernapasan, gangguan pencernaan, dan beberapa kasus lain seperti pus atau adanya luka bernanah pada beberapa bagian tubuh. Pada saat itu banyak sekali pasien-pasien dari jenis kucing yang menderita penyakit infeksius dan saya resepkan antibiotika sebagai obat untuk menyembuhkan infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Infeksi saluran pernapasan menjadi primadona kasus yang banyak saya temui dan tak jarang memasukkan obat dari golongan antibiotika sebagai talaksana penyakit tersebut. Sama seperti dokter manusia, kami para dokter hewan pun selalu melakukan edukasi kepada klien terhadap kondisi yang sedang dialami oleh hewan peliharannya. Termasuk pendidikan dalam memberikan antibiotika secara teratur untuk kesembuhan pasien. Sebagian dari klien dapat memahami instruksi-instruksi yang saya berikan bahwa untuk memberikan antibiotika tidak boleh sembarangan dan harus tepat waktu serta harus dihabiskan. Akan tetapi, tidak sedikit klien juga yang terkadang acuh tak acuh dan sulit untuk disiplin dalam meminumkan obat untuk hewan peliharaannya. Tidak jarang setelah waktu obat yang seharusnya habis, namun banyak klien yang kembali datang ke meja praktik dengan keluhan hewan peliharaannya belum sembuh dan meminta obat lain yang khasiatnya cepat untuk menyembuhkan penyakit. Padahal ketika saya tanya, apakah antibiotikanya sudah diberikan secara tepat waktu dan kontinu hingga habis. Jawaban yang banyak ditemui pun mengaku sulit untuk meminumkan obat kepada hewannya, atau lupa memberikan, atau sangat sibuk sehingga obat yang diberikan tidak teratur. Mendengar hal tersebut, saya pun selalu tersenyum dengan lemas dan kembali menjelaskan mengenai kondisi yang akan terjadi apabila antibiotika tidak diberikan dengan disiplin dan tidak sesuai jadwal, termasuk bahaya akan terjadinya resistensi antibiotika.

Resistensi antibiotika merupakan sebuah fenomena di mana jenis antibiotika sudah tidak mampu lagi untuk membunuh atau bahkan hanya sekedar menghambat pertumbuhan bakteri. Fenomena ini sudah banyak dikaji dalam bidang kesehatan karena dampak yang ditimbulkan sangat mengkhawatirkan dan membahayakan bagi kesehatan manusia. Resistensi antibiotika terjadi akibat banyaknya penggunaan salah satu golongan obat ini yang kurang bijak di tengah-tengah masyarakat. Para tenaga kesehatan yang diberikan kewenangan untuk melakukan transaksi terapeutik pun sudah memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat tentang bagaimana cara mengonsumsi antibiotika yang baik dan benar. Namun, masih banyak masyarakat yang tidak mengindahkan saran medis yang diberikan. Sehingga kejadian resistensi antibiotika pun banyak ditemukan di lapangan dari hasil penelitian yang telah dilakukan.

Sebagai seorang pencinta hewan yang bertanggung jawab, membawa hewan peliharaan Anda untuk mendapatkan pengobatan yang sesuai oleh dokter hewan sudah menjadi sikap yang sangat bijak. Namun, alangkah lebih baik lagi setiap obat yang diresepkan oleh dokter hewan kepada hewan peliharaan tercinta hendaknya diberikan sesuai dengan takaran dan waktu pemberian yang telah dijelaskan oleh dokter hewan sebelumnya. Jangan ragu kembali bertanya kepada dokter hewan yang tengah menangani hewan peliharaan Anda apabila mendapatkan kesulitan atau lupa terhadap dosis dan aturan pakai dari obat tersebut untuk menghindari kesalahan dosis yang dapat menimbulkan efek samping, baik bagi hewan peliharaan maupun lingkungan sekitarnya.

Resistensi antibiotika sendiri terjadi karena adanya pengobatan terhadap infeksi bakterial menggunakan preparat antibiotika yang tidak tepat dosis maupun tepat waktu pemberiannya. Kerja antibiotika sendiri digolongkan menjadi antibiotika yang bersifat bakteriostatik atau hanya menghambat pertumbuhan sel-sel bakteri saja dan bersifat bakteriosidal atau mematikan sel-sel bakteri. Apabila antibiotika yang bersifat bakteriosidal diberikan kepada hewan peliharaan Anda dengan dosis yang kurang secara terus-menerus atau tidak tepat waktu pemberiannya, maka akan membuat beberapa sel bakteri tidak mati seluruhnya dan meninggalkan generasi sel bakteri yang beradaptasi terhadap keberadaan antibiotika tersebut. Kondisi tersebut menjadi trigger terhadap sel bakteri yang mampu bertahan hidup untuk mengaktifkan gen resisten di dalam materi genetiknya agar memproduksi senyawa atau mengubah protein struktur selnya menjadi tidak dikenali lagi oleh molekul antibiotika. Dalam tahap ini, bakteri sudah mampu untuk melindungi dirinya dari ancaman keberadaan antibiotika. Sehingga pengobatan menggunakan antibiotika dari jenis tersebut sudah tidak mempan dan tidak berhasil lagi menahan atau membunuh sel-sel bakteri. Pada akhirnya, bakteri yang mampu bertahan hidup akan membelah diri dan menghasilkan generasi bakteri yang memiliki gen penyandi resistensi terhadap antibiotika yang tengah digunakan.

Bahaya akan generasi bakteri yang adaptif terhadap antibiotika pun tidak hanya sampai di situ saja. Bakteri yang memiliki potensi resisten dapat memberikan gen resistensinya kepada sesamanya atau berlainan spesies bakteri. Hal ini sangat memungkinkan karena bakteri memiliki komponen materi genetik atau DNA yang dapat bergerak (mobile genetic) dan berpindah secara mudah dan tersisipkan pada materi genetik bakteri lain. Mobile genetic yang banyak berperan dalam kejadian resistensi antibiotika dapat berupa plasmid, integron, ataupun transposon. Ketiganya merupakan istilah DNA yang dapat berpindah dengan mudah. Apabila gen resisten yang telah dimiliki oleh bakteri penyebab penyakit pada hewan peliharaan Anda aktif, maka bakteri tesebut dapat “menularkan” kemampuan resistensinya tersebut ke bakteri lain dalam satu jenis atau bahkan berlainan jenis. Kondisi semakin mengkhawatirkan apabila gen resisten tersebut “ditangkap” oleh bakteri-bakteri baik pada lingkungan atau mikroflora normal yang terdapat di dalam tubuh hewan peliharaan maupun diri Anda. “Tongkat estafet” dari gen resisten tersebut akan terus menerus diberikan kepada bakteri-bakteri lain hingga memungkinkan suatu saat nanti apabila Anda maupun anggota keluarga lain di rumah mengalami sakit dan diberikan pengobatan antibiotika yang sama dengan sebelumnya diberikan kepada hewan peliharaan maka akan berpotensi sulit untuk sembuh dan memerlukan dosis tambahan atau alternatif antibiotika lain yang golongannya lebih tinggi. Padahal jika kita ketahui, penelitian mengenai kandidat antibiotika baru di dunia tidak lebih cepat jika dibandingkan munculnya sifat dari gen-gen resistensi antibiotika yang ada.

Begitu juga halnya jika Anda seorang hobbist dari ikan-ikan hias. Ikan hias kesayangan yang sakit memang sudah pasti membuat kita sebagai pemilik merasa resah dan ingin menyembuhkan. Namun, obat-obat ikan yang dijual dan beredar di toko-toko akuarium di Indonesia pun masih belum memiliki komposisi baku. Regulasi hukum terhadap peredaran obat ikan yang teregistrasi dan dikeluarkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia masih belum dapat diindahkan oleh para penjual di toko ikan. Masih rendahnya kesadaran masyarakat akan bahaya dan ancaman resistensi antibiotika menjadikan hal tersebut masih banyak ditemui di lapangan. Bagi para hobbist, komunikasi antarpecinta ikan hias menjadi salah satu sarana dalam bertukar informasi mengenai pengobatan ikan peliharaannya. Tak jarang menggunakan obat ikan yang belum teregistrasi oleh otoritas veteriner yang membawahi bidang medik akuatik maupun Kementerian Kelautan dan Perikanan, dimana komposisinya bisa saja mengandung beberapa antibiotika yang jenis, dosis, dan aturan pakainya tidak jelas terpampang dalam kemasannya yang berbahasa asing. Kondisi ini juga menjadi sebuah potensi berkembangnya resistensi antibiotika di bidang perikanan akibat tidak bijaknya masyarakat dalam memperhatikan jenis obat apa yang mereka gunakan untuk pengobatan ikan. Berbagai penelitian mengenai deteksi gen resistensi antibiotika asal bakteri penyebab penyakit pada ikan sudah menjadi bukti ilmiah bahwa potensi resistensi antibiotika dapat ditemukan pada berbagai lingkungan, tidak terkecuali di lingkungan perairan. Sama halnya dengan skenario “tongkat estafet” gen resistensi antibiotika yang dijumpai pada hewan kesayangan di darat, bakteri di perairan akan dengan mudah mengalir menuju aliran air lain yang ada di sekitarnya. Air sisa menguras atau menyifon (menyedot kotoran dari dasar kolam atau akuarium), ikan mati yang bisa saja mengandung bakteri dan langsung dibuang ke saluran pembuangan air umum, atau air sisa membersihkan filter kolam maupun akuarium bisa menjadi sumber bakteri perairan yang mungkin saja dapat menyebarkan gen resisten pada bakteri-bakteri lain di lingkungan. Yang akhirnya mampu memberikan efek pada kesehatan manusia karena gen resisten tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.

Manusia telah sangat dekat berdampingan hidup dengan hewan, terutama hewan peliharaan yang dapat sakit dan diobati. Konsep one health dapat diterapkan sebagai suatu acuan untuk menjaga kesehatan semesta, yaitu kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Adapun langkah yang bijak dan dapat diambil untuk mencegah isu resistensi antibiotika ini menjadi semakin mengkhawatirkan bagi para pecinta hewan adalah hendaknya mengikuti aturan pakai obat-obatan yang telah diresepkan, terutama antibiotika; selalu berkonsultasi terlebih dahulu pada dokter hewan Anda apabila akan memberikan antibiotika; perhatikan waktu pemberian antibiotika pada hewan kesayangan Anda. Sebagai contoh, apabila dalam aturan pakai dikatakan harus diminumkan 2 kali sehari maka yang dimaksud adalah pemberian antibiotika berselang 12 jam sekali dalam waktu 24 jam. Jika obat pertama diberikan pada pukul 6 pagi maka harus diberikan kembali pada pukul 6 petang; dan yang terpenting adalah selalu habiskan antibiotika pada hewan kesayangan Anda sehingga tidak memberikan celah bagi bakteri untuk tumbuh dan mengembangkan sifat resistensinya.

Bagi para pecinta ikan hias, adapun langkah nyata yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi kejadian resistensi antibiotika adalah selalu menggunakan obat-obatan yang telah terdaftar di Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia; selalu berkonsultasi terlebih dahulu oleh dokter hewan praktisi satwa akuatik apabila ingin menggunakan obat-obatan atau antibiotika tertentu di akuarium atau kolam Anda; serta selalu mendesinfeksi terlebih dahulu semua air asal akuarium atau kolam Anda, baik dari sisa mencuci filter maupun hasil menyifon, sebelum dibuang ke dalam saluran pembuangan air umum sehingga tidak ada celah bagi bakteri untuk mengontaminasi perairan yang lebih luas lagi.

Dengan memperhatikan semua anjuran yang ada secara seksama, kita telah membantu menjaga kesehatan semesta. Memelihara hewan bukanlah suatu perkara yang dilarang, namun adanya kebiasaan-kebiasaan buruk yang berdampak pada kesehatan manusia haruslah dihindari dan selalu menjadi fokus perhatian agar keluarga terdekat maupun lingkungan sekitar kita tetap sehat dan terhindar dari masalah kesehatan yang lebih luas lagi, seperti masalah resistensi antibiotika ini.

Monday, March 9, 2020

My Dreams My Adventures: About Hopes to Become An Aquatic Veterinarian in Indonesia


Saya sudah 1.5 tahun lebih lulus sebagai dokter hewan dan mencoba istiqomah dalam bidang aquatic medicine (benar-benar whole aquatic medicine). Mulai saat sarjana saya tertarik dengan ikan dan makhluk air lainnya. Kemudian di kampus almamater, saya bertemu dengan Profesor satwa akuatik, Prof. Dr. drh. Fachriyan H. Pasaribu, yang banyak meneliti tentang penyakit KHV pada koi dan ikan mas serta terapinya. Serta kajian ilmiah lainnya yang berhubungan dengan dunia perikanan. Di sana saya tertarik untuk belajar lebih dalam di bidang ini. Masuk rotasi klinik elektif koas sempat ambil bagian di ilmu kesehatan satwa akuatik dan magang di Dunia Air Tawar TMII kemudian bertemu mentor saya di sana, dok Disa Syahrani. Hingga setelah lulus sempat terjun sebagai praktisi dokter satwa akuatik di akuarium publik dan praktik mandiri menangani beberapa masalah pada kolam-kolam koi klien. Berbekal mengikuti tutorial video pada channel YouTube Raymond Loh, DVM, Cert.Aq.V, saya belajar otodidak. Namun karena saya merasa masih belum percaya diri dengan ilmu kesehatan satwa akuatik yang saya bawa setelah lulus (karena mungkin kurang dari 1% ilmu di bidang ini diajarkan di kampus), pada akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan saya kembali sampai saat ini dengan mengambil topik penelitian tentang penyakit bakterial pada ikan agar lebih memantapkan lagi kemampuan dasar teori, praktik, dan berpikir ilmiah di bidang ini. Saya ditemukan oleh promotor sekaligus guru terhebat, Prof. Dr. drh. I Wayan Teguh Wibawan, MS., seorang profesor bakteriologi dan imunologi yang  mengajarkan saya untuk dapat memanfaatkan potensi imunoglobulin Y telur ayam sebagai alternatif imunoprofilaksis dan imunoterapi terhadap penyakit streptococcosis pada komoditas ikan nila merah (Oreochromis sp.). Saya juga banyak belajar tentang bakteri Streptococcus dan yang se-famili-nya untuk dapat benar-benar memahami penyakit yang sedang saya teliti dari beliau. Begitu juga halnya dengan proses imunologi yang terjadi pada makhluk hidup.



Beberapa dokter hewan yang berkecimpung dalam dunia akuatik seperti yang disebutkan adalah role model saya untuk dapat bermimpi menjadi seperti mereka. Namun kesehatan satwa akuatik sangatlah luas kompetensi yang harus dicapai. Karena menjadi dokter satwa akuatik tersertifikasi seperti dokter Loh, kombinasi antara aquaculture, ikhtiologi, aquatic verinary medicine, oceanografi, biologi kelautan, ahli higiene dan sanitasi pangan asal produk perikanan, dan ahli fisikokimia perairan harus dipelajari seutuhnya. Dan tidak hanya ikan, namun mamalia akuatik, krustasea, echidodermata, bivalva, dan avertebrata akuatik juga harus dipelajari. Tidak hanya ikan konsumsi, namun ornamental fish dan ikan liar untuk kelestarian plasma nutfah akuatik juga perlu dikuasai. Dalam 2 tahun kedepan saya berencana mengajukan portofolio saya ke World Aquatic Veterinary Medical Association (WAVMA) agar memperoleh gelar Certified Aquatic Veterinarian (Cert.Aq.V) dan menggenapkan cita-cita saya sebagai dokter satwa akuatik tersertifikasi WAVMA di Indonesia. Karena medik akuatik di Indonesia masih sangat jauh tertinggal dengan dunia luar sehingga harus ada yang meneruskan dan mengembangkan ilmu ini di sini. Ikan dan sumberdaya perairan yang berhubungan dengan penyakitnya dan kesehatan manusia juga merupakan bagian dari wewenang dokter hewan. Apalagi Indonesia adalah negara maritim yang punya potensi bahari dan perikanan yang belum banyak tereksplorasi.

Friday, July 19, 2019

Marriage

I just remember about the dialog with my big sister last night because there was a stranger who called and made her shock. It also made I was preached by her. I was shock too, by the way 😑

"I also didn't agree if you're getting married right now. You're still childish for me. Even when you had been mature, it was better to you don't get married first. Please think about your duties, your education, and our little brother. Next year he must be continue to the college, isn't he? So, if you want to hear my opinion. Now, I can't support you for it. Sorry. I think mom and dad would be agree with me. You had to focus.", she said to me on the voice call.


So do I. I have my own priority. No one can push me to change it. Besides, marriage isn't the last goal in my life. It will be start to other problems and you have to deal with. I never listen any negative comments from the people around me (especially neighbour 😂). Please, get married when you're ready and you want, not because of neighboring talk and social perspective.

But, I don't agree with her if it means watching Spongebob Squarepants on the 26 years old is childish.
I love Patrick
Everyone loves it ❤

Friday, June 8, 2018

Komentar tentang Film "Jurassic World: Fallen Kingdom"

Poster 2D Jurassic World : Fallen Kingdom


Hari ini akhirnya sekuel film yang jadi favorit gue dari jaman SD diputer lagi di layar lebar. Jurassic  World: Fallen Kingdom. Yeah, sekuel film dari Jurassic Park yang menurut gue buat kesekian kalinya sukses membuat gue kaget jantungan gara-gara sound effect dan cerita tentang para "monster" prasejarah nya. Setelah Jurassic Park (1993), Jurassic Park II: The Lost World (1997), Jurassic Park III (2001), Jurassic World (2015), dan terakhir ini di tahun 2018 Jurassic World: Fallen Kingdom. Ide cerita dari 5 film dinosaurus yang berasal dari adaptasi novel karya Michael Crichton di tahun 1990 (Jurassic Park) dan tahun 1995 (Jurassic Park II: The Lost World) ini  ga pernah bikin gue bosen.

Seperti sekuel sebelumnya, mungkin buat yang ga terlalu ngikutin dari film awalnya bakal sedikit dibuat bingung sama beberapa tokoh dan cerita yang ada di sekuel terbaru ini. Ceritanya terus nyambung dan berlanjut serta saling nunjukin keterkaitan. Cerita masih tentang spesies dinosaurus di pulau "Isla Nublar" yang tidak lain adalah satu dari 2 pulau selain "Isla Sorna" yang dulunya dijadiin sanctuary atau konservasi in-situ sekaligus pusat riset genetika mengenai "penciptaan" kembali makhluk dari Jaman Triasic (251 ± 0.4 sampai 199.6 ± 0.6 juta tahun yang lalu), Jaman Jurassic (201.3 sampai 56.3 juta tahun yang lalu), hingga Jaman Kretaseus atau Kapur (145.5 ± 4.0 sampai 65.5 ± 0.3 juta tahun yang lalu) milik InGen, sebuah korporasi dalam bidang genetika kepunyaan miliarder John Hammon.

Gue ga bakal bahas mengenai film-film sebelumnya, tapi yang akan gue ceritain di sini adalah kekaguman gue terhadap salah satu tokoh di Jurassic World: Fallen Kingdom yang memainkan peran sebagai "dokter hewan paleontologist" atau tidak lain adalah seorang dokter hewan yang mengkhususkan dirinya terhadap anatomi, taksonomi, fisiologi, dan basic ilmu kedokteran hewan lainnya pada reptil purba ini. 
Sedikit spoiler sih, tapi semoga ga akan membuat BT.

Gue kagum ketika ternyata ada teori yang menyatakan bahwa antara darah Veloceraptor dengan Tyrannosaurus Rex bisa ditransfusikan. Dengan pungsi vena jugularis di leher T-Rex pake jarum IV yang mungkin lebih dari 14G. Kekaguman gue juga timbul terhadap carfentanil yang dipake buat obat bius reptil purba itu yang ukuran badannya, gede seade-adenye. Ok, gue sedikit mau cerita soal obat bius ini. Apa sih sebenernya carfentanil itu. Carfentanil dan fentanil adalah obat penenang atau sedativa dari golongan opioid. Fentanil punya kekuatan sebagai obat penenang 100 kali lebih kuat kalo dibandingin sama heroin. Sedangkan carfentanil punya kekuatan 100 kali lebih kuat dari fentanil. Jadi bisa dibilang carfentanil itu 10.000 kali lebih kuat dari heroin efeknya. Pada praktek kedokteran hewan, carfentanil biasa dipake buat penenang hewan dengan ukuran besar semacam gajah. Obat ini sering banget muncul sebagai larutan warna biru di alat suntik kecil semacam tulup yang ditembakin ke arah dinosaurus di film-film ini.

Tapi yang agak sedikit menguras logika gue saat gue menonton film ini adalah ketika adegan di mana Mosasaurus dari jaman Kapur yang hidup 70-65 juta tahun yang lalu bisa terlihat berenang bebas di laut terbuka antara ombak besar dan ngikutin para peselancar di bawahnya setelah pintu dari bekas danau raksasa di Isla Nublar yang dijadiin sebagai sanctuary nya waktu di Jurassic World tahun 2015 lalu ga bisa ketutup lagi dan jadi jalan buat makhluk ini menuju samudera lepas. Kalo dipikir-pikir pasti banyak perubahan kondisi fisiko-kimia air di lautan modern kalo dibandingin sama lautan purba di jaman dia hidup. Mulai dari perbedaan pH, suhu, salinitas, dll nya. Tapi ternyata di film ini digambarin kalo Mosasaurus bisa hidup padahal kemungkinan besar dari histologi hingga fisiologi badannya bakal banyak ketidakcocokan sama lingkungan air tempat tinggalnya di kala modern. Dari kedalaman ia berenang pun sangat terlihat kalo dia itu "banci" tampil karena sering banget keliatan di kedalaman laut yang dangkal. Padahal mungkin ketika makhluk purba hidup bebas di lautan Bumi yang sekarang, pastinya bakal susah ditemuin. Inget megalodon? Sampe sekarang pun teori yang menyatakan kalo dia masih hidup hingga sekarang di lautan terdalam pun rasanya sulit buat dipercaya karena seperti mencari jarum dalam jerami.

Ya tapi itulah asiknya nonton film fiksi ilmiah yang berdasarkan pada teori pengetahuan alam. Bagi yang suka menelisik lebih dalam setiap part di film Jurassic World ini kayak gue, bakal banyak belajar lagi dari setiap adegan yang ditampilin. Terlepas dari bener apa ga, yang jelas banyak banget pelajaran yang bisa gue tangkep.

Bahwa pada intinya setiap yang sudah digariskan waktunya emang udah paling baik dan ga bisa disatukan antara kala di mana dinosaurus berkuasa dengan manusia sebagai tingkat evolusi tertinggi berjalan beriringan dalam satu masa. Dan bagi para peneliti juga, betapa pentingnya memahami kecerdasan sebagai bagian dari karunia Alloh SWT yang harus digunakan berdasarkan etika kemanusiaan dan lingkungan. Jangan sampe kita merasa bisa menciptakan sesuatu kemudian kufur dan jadi sombong karena kemampuan itu.

Buat penilaiannya, sekuel terbaru ini keren abis. Ga sabar nunggu apa ada sekuel selanjutnya. Tapi dari berita yang beredar kalau 2021 bakal ada Jurassic World III yang bakal tayang. Semoga bener dan ga jadi sekuel terakhir ya. Aamiin.... 🙏

Monday, October 2, 2017

Konsep Veterinary Disaster Management


(Source: http://c.asstatic.com/images/2705231_635874932911145000-Ver1-1.jpg)

Kalo kita ngomongin bencana, kayak banjir, gunung meletus, tsunami, dsb pasti identik dengan yang namanya pengungsian. Nah, sempet kepikiran nih (dan belajar juga dari bencana Gunung Merapi yang meletus tahun 2010 lalu) mengenai penanggulangan bencana. Kalo ada bencana, para penduduk pasti disuruh mengungsi. Tapi, ga jarang kalo penduduk ga mau mengungsi dengan berbagai alasan. Salah satu alasan terkuat para penduduk ga mau mengungsi adalah ga mau ternaknya ditinggal karena takut dicuri, dll.

Berangkat dari adanya Disaster Management di bidang kedokteran manusia, otak langsung mencuatkan ide bahwa Indonesia kayaknya butuh yang namanya Veterinary Disaster Management (VDM) atau pengelolaan bencana di bidang kesehatan hewan. Kalo Disaster Management di manusia, pasti para sejawat dokter menjadi relawan di posko-posko kesehatan untuk jaga-jaga kalo kalo para pengungsi di pengungsian butuh akses medis. Nah, seperti di manusia. Konsep VDM diharapkan mampu buat menanggulangi bencana dari segi hewan milik penduduk yang juga harus diselamatkan dan dibawa ke posko-posko kesehatan hewan. Nantinya di posko tersebut akan ada sejawat dokter hewan yang juga menjadi relawan saat bencana mulai muncul. Hal tersebut juga bertujuan agar penduduk yang memiliki hewan ternak mau untuk mengungsi karena hewan ternaknya dirasa aman dan tetap dekat sama mereka. Konsep ini sebenernya udah dilakukan oleh sejawat dari FKH UGM waktu Gunung Merapi meletus. Namun, akan lebih baik VDM ini juga menjadi mata ajar elektif di FKH-FKH di Indonesia agar mahasiswa dapat belajar menjadi dokter hewan yang bertugas di wilayah bencana dan tahu apa yang harus dilakukan pada hewan saat terjadi bencana di posko-posko kesehatan hewan.

Mengingat Negara Indonesia berada di pertemuan lempeng benua, terdapat di wilayah cincin api yang punya banyak gunung api aktif, dan memiliki laut yang luas dengan ancaman tsunami yang besar, konsep VDM pasti akan sangat berguna. Dengan bantuan yang dikoordinasi antara dinas yang membawahi bidang kesehatan hewan, PDHI cabang yang wilayahnya terkena dampak bencana, serta FKH yang terdekat dengah wilayah bencana dapat menurunkan relawan untuk melakukan manajemen bencana untuk hewan-hewan milik penduduk. Sehingga semua aman, sehat, tenang, dan senang.

Saturday, May 20, 2017

Sistem Pendidikan di Indonesia


(Source: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNFLX0DfdxaQuhgh-488ngrcuXBRuFMqsbkuFriL8KW5JR9_FrRcjpA2nz-U2qlpJ9nJJrlnd2Tt77GMcrc9wO_FqLokupLB_7DmFD5l70mEgPbyxDcQNP3ivxCy776ccEhp2wsnjAcdTa/s1600/logo.jpg)


Pendidikan Indonesia memang masih merangkak untuk bisa dikatakan maju, seperti negara-negara lainnya. Walaupun memang kita tidak bisa mengatakan bahwa pendidikan di negara ini buruk karena mungkin masih ada yang lebih buruk sistemnya dari kita.

Tulisan ini cuma sekedar buah pikiran saya mengenai pendidikan di Indonesia, dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, yang pernah saya tempuh. Karena sebenarnya bukan maksud buat mencibir, melainkan hanya ingin mengeluarkan uneg-uneg yang ada di dalam otak sebagai seorang pelajar dan mungkin sebagai (calon) pengajar.
Dari pendidikan dasar saya bersekolah di sekolah negeri dan hingga jenjang universitas pun juga diberikan kesempatan buat mengenyam di universitas negeri terkemuka di Indonesia. Apa yang saya rasakan dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi dengan atmosfer "negeri" banyak hal yang bisa saya dapat. Mungkin sebagian masyarakat Indonesia punya alasan yang lebih kurang sama dengan saya "kenapa memilih masuk sekolah negeri ketimbang sekolah swasta?"

Jawabannya mungkin karena biaya di sekolah negeri relatif lebih terjangkau ketimbang biaya sekolah swasta. Karena hal itu masyarakat, termasuk saya, berbondong-bondong berusaha agar bisa diterima di sekolah negeri yang notabene milik pemerintah sehingga bantuan biaya pemerintah terhadap operasional pendidikan di sekolah negeri dapat diperoleh. Hal inilah yang membuat biaya di sekolah negeri lebih terjangkau.

Selama saya bersekolah, murid di sekolah negeri relatif mendapatkan perhatian yang rata dari gurunya. Walaupun ada beberapa kasus yang mengecualikan, seperti murid yang pandai pasti akan lebih dikenal oleh guru atau murid yang banyak berulah nakal juga pasti akan lebih diperhatikan guru. Tidak jarang, hanya segelintir murid saja yang bisa dekat secara personal dengan seorang guru.

Kompetisi di tiap jenjang pendidikan juga sedikit sekali berbeda. Murid berlomba-lomba untuk jadi peringkat satu di kelas. Tujuannya tidak lain hanyalah untuk menunjukkan bahwa dirinya lah yang paling hebat dan pastinya bisa menjadi buah pembicaraan orang tua dalam membanggakan anaknya pada tetangga. Mungkin alasan kedua juga menjadi pendorong mengapa universitas negeri menjadi primadona bagi mantan siswa siswi SMA. Selain prestis yang tinggi jika kita diterima di perguruan tinggi negeri, kita juga secara tidak langsung sudah menunjukkan kalau kita bisa mendapatkan apa yang dibanggakan oleh orang banyak. Apalagi bisa diterima di jurusan yang punya tingkat "kehormatan" selangit. Sehingga tak jarang banyak yang mau mempertaruhkan apapun buat bisa diterima, termasuk menggunakan jalan yang justru bisa menurunkan derajat kehormatan itu.

Sistem pembelajaran di Indonesia yang dengan banyaknya bidang studi pun juga menjadi warna tersendiri buat para muridnya. Dari sekolah dasar bahkan hingga SMA, yang walaupun sudah ada 'penjurusannya', masih saja membebani muridnya dengan mata pelajaran pelengkap hingga belasan mata pelajaran yang di akhir pendidikan harus diujikan juga. Dan tak jarang mendidik kita buat "harus" bisa pintar di segala bidang, dengan dalih semua ilmu penting buat dipelajari.

Saya pikir, setelah masuk kuliah, stigma "cerdas di semua belasan mata pelajaran segudang" yang selama 12 tahun saya temui di pendidikan dasar dan menengah, tidak akan ditemui lagi di pendidikan tinggi. Tapi ternyata jangan berharap lebih terhadap sistem. Setiap dosen yang mengajarkan matakuliahnya selalu mengunggulkan bahan ajarnya kepada mahasiswa bahwa, "kalau kalian tidak menguasai ilmu ini, kalian tidak bisa menjadi penyembuh yang sempurna".

Memang tidak ada yang salah dengan kalimat itu. Apalagi jika didukung dengan jurusan bertipe profesi yang langsung berhubungan dengan nyawa seperti yang saya ambil saat ini. Namun sepertinya saya kurang dapat memahami mengenai kata-kata itu. Atau mungkin karena faktor saya nya yang tidak bisa mengikuti alur pendidikan profesi yang outputnya mencetak lulusannya dalam kompetensi umum?

Mungkin ini cuma rasa lelah individu dari seorang mahasiswa yang harus menjadi expert dalam tiap kompetensi profesinya dalam rentang waktu yang relatif singkat. Dan pasti banyak yang mencibir setelah membaca tulisan ini, "kalau tidak bisa mengikuti sistem ya keluar saja".

Saya hanya berpikir, bagaimana bisa seorang mahasiswa dengan kosong pengalaman dapat dicetak menjadi seorang ahli di 16 bidang hanya dalam kurun waktu 5.5 tahun? Ditambah lagi kemampuan teori lebih dominan terhadap praktik. Ini sudah terjadi sejak kita semua berada di SD, SMP, dan di SMA. Kenapa seorang murid SMA program IPA harus dipaksa memahami sejarah padahal sebenarnya dia punya ketertarikan lain di bidang sosiologi? Namun kalau dia ingin belajar sosiologi, pastinya dia harus mengambil program IPS karena sosiologi itu "kompetensi" nya program IPS. Dengan "sistem paket mata pelajaran" yang membatasi minat itulah yang membuat mahasiswa atau murid menjadi sangat terbatas dan kaku dalam menggali apa yang dia minati untuk dijadikan landasan dan motivasinya mengapa ia belajar sesuatu. Belajar karena senang dengan belajar karena terpaksa pasti akan sangat terlihat pada proses dan hasilnya. Bagai analoginya, "mengapa seorang penari harus mampu melatih indra perasanya kalau sebenarnya gerakan tubuh yang luwes lah yang harusnya ia kuasai dengan penuh semangat oleh seorang calon penari profesional".

Walaupun memang pada tingkatan pendidikan yang lebih tinggi, seperti master dan doktor atau program spesialis, nantinya akan lebih dispesifikasikan. Tapi, kenapa harus menunggu hingga master atau doktor? Apa karena alasan pada usia itu manusia bisa lebih matang sehingga lebih siap untuk menjadi ahli? Kalau iya, lalu kenapa pada saat jenjang pendidikan yang lebih rendah dari master atau doktoral, mahasiswa harus tampil sempurna dalam ujian di tiap bidang padahal kemampuannya pun sebenarnya belum mumpuni untuk menguasai satu bidang saja? Dan terkadang di saat ujian, mahasiswa seperti sedang mengadu ilmu dengan dosennya padahal sudah dipastikan ilmu Sang dosen lebih tinggi levelnya ketimbang mahasiswa yang mendapatkan kesempatan belajar di bidang dosennya itu pun sedikit karena harus berlomba dengan mata kuliah lain yang juga menganggap masing-masing dirinya penting dalam proses pendidikan.

Menurut pendapat saya pribadi, sudah barang tentu pemahaman mahasiswa jauh dari kata sempurna. Tak jarang salah dalam memahami suatu teori. Lalu ketika saat ujian mahasiswa tersebut salah, bagaimana? Apakah ada yang membenarkan letak kesalahannya? Bukankah itu adalah salah satu tugas seorang pengajar buat meluruskan pemahaman mahasiswa nya yang salah (ini di luar faktor mahasiswa itu memang malas belajar)? Tapi yang dirasakan oleh kebanyakan mahasiswa, nilai jelek atau ujian ulang lah yang pastinya akan diperoleh kalau kita tidak bisa perfect dalam menjawab pertanyaan. Padahal dosen tidak mengetahui bagaimana usaha maksimal dari mahasiswa itu untuk lulus dari kelasnya sesaat sebelum ujian dimulai.

Hal-hal semacam itu lah yang menurut saya mengapa pendidikan dan kualitas lulusan pada setiap bidang ilmu di Indonesia masih harus dievaluasi. Masih sedikit juga lulusan yang belum mencintai apa yang ia pelajari. Tanggung jawab seorang pengajar terhadap yang diajar memanglah berat. Proses belajar mengajar adalah proses transfer ilmu yang mana jika tidak benar, maka ilmu yang ditransfer tidak akan bisa terserap dengan sempurna. Tapi tanggung jawab itulah yang nantinya akan berperan dan memutuskan secara tidak langsung bagaimana seorang "pelurus" bukan "penerus" dicetak agar ilmu yang sudah ada dan berkembang di Indonesia tidak hilang dan dapat diteruskan ke generasi selanjutnya.

Saya jadi ingat kalimat dari tokoh pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara, yang berhubungan dengan bagaimana seorang pengajar harusnya bersikap terhadap orang yang diajarnya, dimana filsafat itu saya rasa saat ini sudah mulai dilupakan oleh para pengajar. Kalimat itu berbunyi:

Ing Ngarso Sung Tulodo: Di depan memberi teladan

Ing Madyo Mbangun Karso: Di tengah memberi semangat

Tut Wuri Handayani: Di belakang memberi dorongan.

Jadi secara tersirat Ing Ngarso Sung TulodoIng Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani memiliki arti: figur pengajar yang baik adalah disamping menjadi suri tauladan atau panutan, tetapi juga harus mampu menggugah semangat dan memberikan dorongan moral dari belakang agar orang-orang yang ia didik dapat merasakan situasi yang baik, semangat, dan bersahabat. Sehingga makna "mendidik" dan "mengajar" benar-benar dapat tersampaikan dengan baik. Dengan begitu, harapannya dunia pendidikan di Indonesia mampu mencetak para ahli yang bukan hanya pintar, tapi senang, kreatif, dan tertarik dengan bidang pekerjaannya kelak untuk memanfaatkan potensi besar bangsa ini.

Semoga nanti, jika saya punya kesempatan menggapai cita-cita saya menjadi seorang pengajar, saya akan berusaha untuk tetap teguh terhadap filosofi "guru" yang diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara.

Thursday, August 13, 2015

Realizing The Ideal Mass Rapid Transport for Jakarta Citizens




(Jakarta MRT’s Logo)

Are you citizens of the Jakarta? Whether you are migrants citizens from cities around Jakarta who work or activity in Jakarta? If so, you must have been familiar with the traffic problems of the capital that is increasingly complicated. Many road users to use their personal vehicles as a reliable means of transportation to take them from one place to another in Jakarta. However, the increasing number of private motorcycle and car users actually further aggravate congestion. Discomfort, the number of transport fleets are still few, and transportation have not been integrated in every place makes mass transportation in Jakarta is still not able to attract the people switches to using transportation that has been provided by the government.
Because of it makes the government of Jakarta thinking to maximize mass transit friendly and easy to use by citizens of Jakarta and the migrants citizens from the cities that were around Jakarta, such as Tangerang, Depok, Bogor, and Bekasi. Jakarta currently has a form of mass transportation like Trans Jakarta or Busway and rail-based transportation (KRL Commuterline) which is sufficient to connect various places in Jakarta with other cities. However, this is still not sufficient modes of transport for people who have a higher degree of mobility from year to year. Therefore, recently appeared some government plans to build a facility that is integrated with the previous mass transportation.
Currently the construction of rail-based transportation are Mass Rapid Transit (MRT) has been running as an answer to the needs of the community will be the mode of transportation convenient and reliable. Later, Jakarta MRT will consist of two corridors, namely the North - South corridor that stretches along approximately ± 23.8 kilometers from Lebak Bulus to Kampung Bandan and the East - West corridor that stretches along approximately ± 87 kilometers. So that the overall length of the MRT rail is approximately ± 110.8 kilometers. Development of South - North corridor from Lebak Bulus to Kampung Bandan in two phases, where first phase is constructed connecting lines between Lebak Bulus to the roundabout HI along 15.7 kilometers with 13 stations (7 elevated stations and 6 underground stations) and is targeted to begin to operate in 2018. As for the second phase followed by making the North - South line from the roundabout HI to Kampung Bandan along the 8.1 kilometers which will begin construction before the first phase of operation and is targeted to operate 2020. For the corridor East - West is currently in the feasibility study stage and targeted slowest operations in 2024 - 2027 next. In addition, the government is also planning the construction of the Light Rail Transit (LRT) seven corridors where two corridors, namely corridors 1 (Kebayoran Lama-Kelapa Gading) and corridor 7 (Kelapa Gading-Kemayoran-Pesing-Soekarno-Hatta), will begin to be worked on 2015's.
Is this the government's plan will reduce congestion in Jakarta? Let's wait until the MRT and LRT begin operating later. (Rifky)

Thursday, December 25, 2014

I Heart Commuterline

Wuuaaaaaah....gue dah lama banget gak nulis di blog tersayang. Malem ini mau nulis hal-hal santai ah. Kali ini gue mau ngomongin soal transportasi kesukaan gue. Apa itu? Yap bener. COMMUTERLINE.

Sesuai judulnya, gue akan membahas tentang transportasi massa nan cukup 'nyaman' di ibukota ini. Bagi gue, salah satu transportasi modern yang patut dilestarikan dan dipertahankan serta dibetulkan beberapa halnya ini sangat cukup membantu gue saat nemuin tempat yang belom pernah gue datangin sebelumnya. Gue selalu bertanya, "tempatnya deket stasiun terdekat apa?" Pertanyaan itulah yang selalu gue tanyakan dan berdasarkan pengalaman pribadi, ini sangat membantu dan gue Alhamdulillah bisa selalu berhasil menemukan tempat yang gue cari dengan turun di stasiun terdekat.

Commuterline itu selalu ada di imajinasi gue sebagai model transportasi yang kenyamanannya (dalam waktu-waktu tertentu pastinya) cukup layak dipakai sama masyarakat Jabodetabek. Gue selalu ngebanyangin kalo gue lagi naik Commuterline, gue berasa di negara lain (ini lebay mungkin). Karena suasana di stasiun dan saat masuk menggunakan e-ticket dan kartu e-money. Menurut gue itu udah bisa diliat sebagai kemajuan dari transportasi massal buat masyarakat di Indonesia. Cukup cepat dan selalu sesuai dengan estimasi ketika gue pulang atau berangkat.

Gue sangat akrab sama kendaraan ini karena gue yang notabene masih kuliah di Bogor tiap minggunya pasti selalu menyempatkan pulang ke home sweet home di Bekasi. Berangkat dari stasiun Bogor dan transit di Stasiun Manggarai trus dilanjutin naik Commuterline ke arah Bekasi dan turun di Stasiun Kranji menjadikan gue deket dan tau jam-jam kapan akan sepi dan kapan akan menikmati peran sebagai "ikan sarden" di dalem kereta.

Commuterline ini cukup menghubungkan berbagai sudut di Jabodetabek secara kontinu. Walau gak semua daerah bisa ada stasiun terdekatnya, tapi cukup kok buat menghemat sedikit biaya transportasi. Ini beberapa harga tiket Commuterline* dari beberapa stasiun yang pernah gue pake, sangat terjangkau. Apalagi kalo diliat dari jaraknya yang apabila kita nyambung-nyambung angkot bisa parah banget mahalnya:
  1. Stasiun Bogor - Bekasi/Bekasi -Bogor                       : Rp. 5.000,-
  2. Stasiun Bogor - Jakarta Kota/Jakarta Kota - Bogor   : Rp. 4.500,-
  3. Stasiun Bekasi - Jakarta Kota/Jakarta Kota -Bekasi  : Rp. 3.500,-
  4. Stasiun Bogor - Serpong/Serpong - Bogor                : Rp. 5.500,-
  5. Stasiun Serpong - Bekasi/Bekasi - Serpong              : Rp. 5.500,-
*) semuanya ditambah Rp. 5.000,- sebagai jaminan tiket kalo pake tiket harian berjamin (THB).  Ada juga tiket Multitrip, jadi gak usah nukerin tiket. Tiket jenis ini gue rekomendasiin kalo lo gak tau akan turun di stasiun mana. Jaminan THB ini bisa diambil lagi dengan nukerin tiket ke loket refund sampe batas 7 hari dari tanggal pembelian tiket, kalo gak bisa hangus uang jaminannya.

Sekarang ditambah dengan kemudahan kita pake e-money, jadi makin mudah aja kita pergi-pergian di Jabodetabek. Apalagi kartu e-money juga bisa dipake di Transjakarta. Itu makanya, sebenernya Indonesia bisa sama kayak di negara lain. Tinggal kitanya yang bisa jaga apa engga. Dan pegawai kebersihan di Commuterline juga wajib diberi apresiasi tinggi tuh karena berkat mereka, gue dan lo bisa menikmati kondisi bersih di Commuterline.

Jam-jam padet biasanya ada di jam berangkat kantor sampai jam pulang kantor (18.00) di weekday. Gue pernah punya pengalaman kegencet di CL dari Stasiun Tanah Abang menuju Manggarai. Aduuuhh....gilee...itu parah banget. Bodohnya gue, gue naik dari Tanah Abang itu pas di jam pulang kantor atau sekitar maghrib. Rameeeeee banget bro sist! So, mesti tau juga ya kalo ga mau cosplay jadi ikan sarden di kalengan. Eh tapi, gak semuanya rame. Ada satu Commuterline yang bisa ditemui dalam keadaan sepi, kalo beruntung di jam-jam 10 sampe jam 2 an siang akan bisa didapetin kereta sepi kayak kereta hantu. Apalagi kalo kita naik dari Stasiun Jakarta Kota.

(Ini commuterline di jam satu siang dari St. Kota. Sepi bingit kan?)

So, itulah yang gue bisa share soal Commuterline, transportasi tercinta. Commuter itu emang belum bisa kaya Skytrainnya Bangkok atau Shinkansen nya Jepang, tapi menurut gue doi udah bisa kok disejajarin sama kereta dari dua negara itu :D

Sunday, October 19, 2014

Macet

            Macet. Satu kata yang udah biasa gue, dan mungkin bagi sebagian warga Jakarta dan sekitarnya, denger dan alami sendiri setiap hari. Gue pun punya arti tersediri dari kata macet ini:
M: Makin
A: Asik
C:Ceritanya kalo
E: Elu dan gue
T: Tertib

            Ya memang, menurut gue pribadi. Kemacetan yang ada di sekitar kita itu terjadi gak lebih dari akibat ulah kita sendiri. Coba lu hitung, berapa kali sih lu keluar rumah pakai kendaraan pribadi setiap hari, baik itu motor ataupun mobil? Berapa kali juga kalian saling dempet di gerbong commuterline? Seberapa sering lu duduk di halte buat memberhentikan bus kota? Dan jika lu harus memilih pergi ke suatu tempat di Jakarta, lu akan memilih menggunakan transportasi massal yang panas, saling dorong, dan pengap atau pada akhirnya kembali lagi ke jok empuk mobil pribadi dengan pendingin ruangan yang bisa membuat lu nyaman di dalamnya?

            Kita tahu, Bumi itu makin panas dan gak karuan. Iklim juga mengalami ketidaktepatan. Banyak orang di luar sana yang udah berkampanye go green, bike to work or school or campus, save our Earth, sampai banyak juga yang menggembor-gemborkan mengenai global warming sebagai fenomena mainstream yang mulai muncul 10 tahun belakangan. Mereka mencoba mengingatkan kita semua buat tetap menjaga kesehatan Bumi agar gue, lu, dan hewan di muka Bumi tetap bisa menikmati yang namanya langit biru dan hijaunya pepohonan. Tapi kayaknya kita gak terlalu menggubris dengan serius isu-isu tersebut.

            Keadaan di atas juga berhubungan erat dengan yang namanya macet di Jakarta dan sekitarnya. Polusi yang kita hasilkan tiap hari dengan kendaraan pribadi yang kita tumpangi tanpa disadari justru meningkatkan keberadaan isu-isu lingkungan yang berkembang selama ini. Daerah hijau ibukota pun sudah berubah jadi hutan beton yang menembus langit sehingga gak ada lagi pohon yang mampu menetralkan racun polusi menjadi oksigen berkualitas buat kita. Waktu kita membunyikan klakson karena terlalu jengkel dengan macetnya jalanan ibukota, apa lu lupa sebenarnya lu juga udah mengambil peranan menjadi salah satu bagian dari penyumbang terbesar kemacetan? Lu pernah mikir gak sih? Seandainya mobil pribadi di kiri, kanan, depan, atau belakang lu itu gak ada karena orang-orangnya beralih ke angkutan umum yang memang sudah disediakan oleh pemerintah, pasti jalanan gak mungkin seperti sekarang ini di mana kepadatannya sering membuat pengguna jalan naik darah karenanya.

            Kalau kita mau dan niat, kendaraan umum sebenarnya adalah salah satu jawaban buat kita terbebas dari kemacetan dan mengurangi penumpukan polusi di langit ibukota. Satu kendaraan umum, sebut aja bus kota, sekali jalan mereka bisa mengantarkan lebih dari 40 penumpang sekaligus dalam satu waktu. Sedangkan kendaraan pribadi biasanya cuma diisi gak lebih dari dua orang padahal kapasitasnya bisa sampai lima orang. Menurut gue ketidaktertiban inilah yang membuat jalanan padat. Jika sebuah perusahaan memiliki 800 karyawan yang menggunakan mobil pribadi dan Jakarta punya lebih dari 2000 perusahaan, bisa dihitung secara sederhana ada berapa banyak mobil yang  tiap harinya mengisi ruas jalan ibukota yang kayaknya makin tambah sempit. Belum lagi dengan pegawai institusi pemerintah yang juga jumlahnya pasti lebih dari 1000 orang. Jalan aspal setiap pagi dan petang berubah menjadi sungai asap yang sebenarnya gak disadari oleh kita mengancam kesehatan.

         Sayangnya banyak pengguna kendaraan pribadi enggan buat beralih ke angkutan umum dengan berbagai macam alasan. Karena gak layak beroperasi, panas, sampai keadaan-keadaan lain yang buat penumpang gak nyaman.  Tapi hei, coba kita berpikir kalau dua dari 800 karyawan itu dalam satu hari berubah pikiran buat menggunakan angkutan umum, berarti hanya tinggal 798 karyawan yang ngegunain angkutan pribadi, bukan? Walau hanya berkurang dua kendaraa, tapi coba bayangin kalau setiap satu hari ada dua orang yang akhirnya juga berubah pikiran? Dalam waktu satu tahun lebih satu bulan, 800 kendaraan pribadi mungkin bisa lenyap dari jalanan ibukota dan seenggaknya udah sedikit bisa memperluas jalan. Bayangkan kalau setiap karyawan dari 2000 perusahaan tersebut dan pegawai institusi pemerintah melakukannya secara bersamaan, bukan gak mungkin kita bisa nikmati perjalanan dari Kampung Melayu sampai Pasar Senen hanya dalam waktu lima menit dan tingkat polusi udara pun menjadi dapat terkontrol.

           Tapi memang, gak bisa dipungkiri. Keadaan fisik dan ketertiban berkendara para supir kendaraan umum juga harus ditingkatkan. Karena semuanya sudah beralih ke kendaraan umum, berarti hal itu memaksa para penyelenggara angkutan umum buat meningkatkan kualitas pelayanannya. Buatlah angkutan senyaman mungkin agar masyarakat gak beralih lagi ke kendaraan pribadinya. Membuat kendaraan umum yang layak digunakan inilah juga jadi tugas kita bersama, selain pemerintah dan pemilik angkutan. Rawat layaknya merawat apa-apa yang memang punya kita dan jangan dirusak. Hal ini lah yang gue katakan bahwa sebenarnya akan makin asik ceritanya kalau lu, gue, dan kita tertib menggunakan jalan dan fasilitas umum agar semua hal menjadi aman, nyaman, dan bisa diandalkan.

           Terkadang manusia cuma bisa menyalahkan banyak pihak, tapi gak mau mengangkat “cermin” dan berkata ke dirinya sendiri: “oke, gue juga bersalah dalam hal ini”. Mari belajar menjadi orang yang mengomentari suatu hal dengan dua sudut pandang dan bersikap bijak dalam bertindak agar kita gak mudah menyalahkan sesuatu secara sepihak. Dengan begitu, gue percaya bukan gak mungkin kita bisa bebas dari kata macet ibukota serta bisa menghirup udara bersih yang memang layak masuk ke paru-paru kita asal mau mengusahakannya secara kolosal, berkelanjutan, dan bersama-sama.

Rifky Rizkiantino
Twitter: @Rizkiantino
rifkyrizkiantino.blogspot.com