Cursor

SpongeBob SquarePants Mr. Krabs

Monday, February 20, 2017

Curahan hati tengah malem :D

"Cuman waktu yang bisa jawab semua kondisi kita di masa yang akan datang"

Ya, mungkin itu yang bisa gue tulis.
Ga tau kenapa malem ini gue ngerasa kesepian gitu. Jadi melo :(
Ditambah denger playlist "Pretend -Secondhand Serenade"
Paaaaaass...banget suasananya.
Gue keingetan sama sesuatu gegara sahabat gue banyak upload kenangan kekinian sama temen-temen nya belakangan ini. Mungkin kedengeran childish sih, tapi sepertinya gue merasa cemburu ya. Haha....
Tapi, kalo gue boleh jujur mungkin itu yang ngebuat gue merasa sedikit kesepian belakangan ini. Memikirkan sendiri tentang semuanya:

  1. Apa gue bisa lulus koas tepat waktu di bulan Mei 2017 ini ya?
  2. Apa gue bakal selesaiin semuanya?
  3. Apa gue akan dapet panggilan interview kerja kedua gue di lembaga konservasi satwa akuatik yang gue pengenin itu ya?
  4. Apa gue beneran bisa kerja di mall Podomoro City itu?
  5. Apa gue beneran bisa lanjut S2 di luar negeri pake LPDP?
  6. Tapi kan butuh tes TOEFL, dari mana gue bisa dapet uang buat tes TOEFL?
  7. Siapa ya yang bakal dengan senang hati ngasih gue surat rekomendasi? Apa profesor di kampus sudi kasih rekomendasi buat gue?
  8. Gimana caranya ngelunasin SPP koas sebesar itu ya?
  9. Atau, apa gue bisa kerja dulu buat bayar SPP koas?
  10. Kalo gue bolak-balik kampus saat ini, apa nyokap ga keberatan sama ongkos buat gue?
  11. Gue pengen cepet kerja, tapi gue juga mau kuliah lagi 😭
  12. Apa gue bisa bahagiain bokap nyokap dengan cepet ya?
  13. Apa gue bisa sekolah sampe S3? Gue pengen banget bokap nyokap punya anak sekolah tinggi, bahkan bisa jadi profesor 😭
  14. Apa gue sempet mencapai semuanya itu sebelum kesempatan gue habis? Karena gue sadar, hidup itu cuman permainan dan ga tau kapan game over-nya.

Semuanya gue pikirin sendiri. Bingung mau cerita sama siapa soalnya. Personal banget juga takut yang denger jengah. Ditambah lagi, temen-temen deket gue sepertinya sudah punya dunia mereka sendiri. Gue jadi tambah ngerasa sendirian. Hahaha..... Mungkin karena gue nya yang udah terlalu lama menghilang dari mereka, jadi gue ga bisa selalu deket sama mereka lagi sekarang. Di kampus itu, sayangnya susah dapetin orang yang bisa nyaman gue ajak buat gila-gilaan. Gue jadi inget sama filosofi rumah tua. Rumah yang udah lama berdiri, pasti akan banyak renovasi dan perubahan sebagai bagian dari pemeliharaan. Satu per satu barang atau ruangan dalam rumah itu akan berganti. Hingga suatu saat kita bakalan sadar, udah menghapus beberapa kenangan dan lambat laun akan hilang seluruhnya. Kita pun ga akan tau lagi dahulu ada apa aja di sana. Mungkin ada yang bilang, persahabatan lebih dari 7 tahun itu akan awet. Gue hanya bisa berdoa dan mengamininya. Tapi, justru yang gue rasain mungkn akan sebaliknya. Wajar jika saatnya nanti gue akan hilang dan digantikan yang baru. Karena gue mungkin udah terlalu ketinggalan jaman. Dan lambat laun, seperti ruangan di rumah tua, gue akan direnovasi dan hilang dari dalam rumah itu. Tergantikan dengan interior baru dan furniture yang lebih kekinian agar pemilik rumah ga merasa bosan.

Kalo dipikir-pikir kondisi gue sekarang, gue kadang suka ngerasa sedih sendiri. Gue udah sarjana, tapi masih minta sama orangtua. Kalo ke kampus, uang yang dikasih nyokap cuman abis buat ongkos aja. Beli pulsa aja kudu nabung dulu sisa ongkos seribu-dua ribu. Pengen jajan di warung aja, kudu ditahan gegara malu kalo harus minta. Paling nunggu adek gue jajan, baru kalo ditawarin gue bisa jajan. Jalan-jalan keluar rumah aja juga jarang karena ga ada duit. Lagi-lagi, malu kalo harus minta uang. Nangkepin ikan cere deket rumah palingan yang bisa ngilangin penat gue kalo lagi di rumah dan ga ngampus. Entah apa yang tetangga pikirkan tentang gue. Hahahaha....... Abisnya, kirim lamaran sana sini, mintanya pasti harus udah dokter hewan. Lamar ke penerbit jadi editor juga belom ada yang respon. Mau daftar beasiswa, ga punya sertifikat TOEFL. Pengen banget jarang ngampus buat saat ini sampe gue dapet kerjaan sendiri. Bukan karena gue males, tapi gue bingung ongkosnya. Itupun gue ga akan bisa makan siang, dan selalu berhasil gue tahan sampe gue pulang ke rumah biar gue ga ngeluarin uang lagi.

Kadang gue iri ngeliat temen yang bisa makan apa aja di restoran enak atau pergi sana-sini, entah karena udah kerja atau duit ortunya. Begitu juga sama gadget yang mereka punya. Temen-temen disekelilingnya yang juga kekinian bisa diajak kemana-mana. Upload di medsos tentang kebersamaan mereka di tempat eksis. Gue cuman bisa senyum aja kalo tiap kali mereka ngomongin atau liat hal mewah itu di depan gue. "Enak ya, kapan gue bisa kayak gitu?"
Tapi, cepet-cepet selalu bisa sadar. Kalo apa yang gue miliki sekarang itu juga udah sangat mewah kok dan semoga, gue ga jadi kufur nikmat :(
Gue suka minder, sama yang gue punya. Tapi, gue selalu inget omongan nyokap. Biarpun kita ga punya apa-apa, asal jadi orang jujur itu udah lebih dari cukup.

Duh, malah jadi curhat kemana-mana gini gue yak. Hahaha.... :D
Tapi, emang cuman ini doang sih media yang bisa gue pake buat curahin semua uneg-uneg dari dalam otak gue sekarang ini. Sedikit plong bisa ceritain semuanya.
Emang cuman waktu yang bisa jawab semuanya nanti :)
And I hope everything is gonna be okay q[^∆^]p

Friday, September 2, 2016

Momo



             15 Januari 2013, kata ibuku aku lahir di hari itu bersama tiga saudaraku yang lain. Aku lahir di mesin cuci di rumah pemilik ibuku. Keluarga yang mempunyai ibuku sejak ibuku kecil sangat baik, mereka semua ada lima manusia baik. Tapi walaupun begitu, terkadang uncle dan onty yang memelihara kami suka terlambat memberi kami makan. Tapi kami senang tinggal di sana. Mereka semua baik dan menyayangi kami. Banyak pelukan dan belaian hangat yang aku, ibu, dan tiga saudaraku dapatkan dari keluarga kecil ini.
            Aku kucing kampung yang lucu dan menggemaskan. Rambut di badanku warna motifnya sangat unik. Kata uncle Rifky, salah satu anak keluaga pemilik kami yang sedang bersekolah di sekolah dokter hewan, warna dan motif rambutku seperti macan tutul hitam. Ekorku menyerupai ekor ibuku, panjang sekali. Ekor yang kupunya berbeda dengan ketiga saudaraku yang lain yang memiliki ekor pendek. Ada yang berbeda saat aku sedikit lebih dewasa. Ada hal yang istimewa di tubuhku. Kedua kelopak mata atasku tidak tumbuh dengan baik, jadi aku terlihat berbeda dengan kucing kampung lain. Mataku jadi terlihat sipit. Menurut uncle Rifky yang calon dokter hewan, aku mengidap kelainan baawaan yang dalam istilah kedokteran hewaannya disebut Ektopion. Tapi walaupun hanya aku yang memiliki kekurangan fisik, kami semua lucu dan aku tidak pernah sedih. Namun sayang, setelah empat hari kami lahir, ibu harus kehilangan dua saudaraku. Uncle Rifky cerita, mereka terinfeksi virus yang mengakibatkan sistem imun dua saudaraku itu menjadi lemah. Aku sebenarnya tidak mengerti apa yang dikatakannya. Ibuku terlihat sedih saat itu. Akhirnya mereka dikubur di dekat rumah tempat tinggal kami.
            Tidak terasa lima bulan sudah umur aku dan Muezza, saudaraku yang tinggal satu-satunya menemaniku. Kami bermain sepanjang hari. Berlari dan bermain di ruang tamu dan di sudut-sudut ruangan. Di waktu siang, aku dan adikku itu sangat senang menyusu di ibu kami. Tempat favorit kami menyusu adalah di bawah meja makan atau kursi teras. Aku dan saudaraku suka menyusu di tempat itu karena lantai tempat kami berbaring dingin. Karena udara tempat kami tinggal, di Kota Bekasi, sangat panas kalau siang hari. Apalagi saat berbaring santai di kursi teras ditemani angin sepoi-sepoi menerpa kami dan membuat sejuk. Terkadang juga membuat rambut ibuku tertiup lucu. Ibu juga sering mengajak kami bermain. Tapi kami akan dimarahi oleh pemilik kami kalau berkeliaran di jalan. Mereka mungkin khawatir jika kami tertabrak mobil atau  hal membahayakan lainnya yang dapat menimpa kami.
            Namun seiring berjalannya waktu dan kami makin tumbuh, ibu kami harus menyebrangi jembatan pelangi karena dipanggil oleh Tuhan. Ibu meninggal mendadak sekali dan tubuhnya ditemukan oleh uncle Rifky di bawah kursi di depan rumah kami. Aku sedih saat ibu harus kembali ke kandang lebih besar di langit dan semua anggota keluarga pemilik kami pun juga terlihat sedih. Padahal aku dan adikku sangat sayang dengan ibu. Ibu maafkan kami karena kami selalu menyusahkan ibu. Kami suka bandel karena sering mengganggu ibu kalau ibu sedang tidur atau sedang makan. Setiap waktu makan pasti ibu selalu mengalah tidak menyentuh makanan yang diberikan onty atau uncle dan menyuruh kami makan terlebih dahulu. Ibu baru makan kalau kami sudah tidak ingin makan dan mulai bermain lagi. Aku sering mengganggu ibu dengan menggigiti ekor ibu dan terkadang ibu merasa sakit dan memarahi aku. Tapi kami sangat sayang sekali dengan ibu. Semoga ibu mendapat ikan yang besar di langit.
            Siang itu aku dan Muezza sedang bermain. Namun, Muezza bermain terlalu jauh dari rumah. Hingga malam pun ternyata Muezza tidak kunjung pulang, aku membantu uncle dan onty ku mencari Muezza. Tapi tidak berhasil. Tiga hari Muezza hilang dan tak kunjung pulang. Terkadang aku menatap uncle dengan tatapan bertanya, “Muezza mana uncle?”. Tapi uncle hanya menjawab, “Mungkin Muezza sudah mendapatkan tempat hidup yang lebih baik lagi”. Setelah kepergian ibu, ternyata Tuhan sangat sayang denganku. Aku harus kehilangan saudara satu-satunya, teman bermain satu-satunya, Muezza. Muezza harus pergi meninggalkan rumah kami karena ada yang tertarik mengadopsinya.
            Aku tumbuh menjadi kucing kampung yang lucu. Hobiku bermain bersama teman-teman di luar rumah. Kalau siang hari terkadang aku bermain, namun kalau cuaca sedang panas aku akan tidur-tiduran di sofa atau di atas lantai. Aku sangat suka ketika uncle mengelus perutku saat aku tidur. Aku merasa nyaman sekali. Tapi kata uncle, aku punya kebiasan jelek. Aku kucing yang tidak sabaran kalau meminta makan. Aku akan mengeong keras sekali dan mendekati onty atau uncle dan berjalan manja di kaki mereka. Cara itu selalu berhasil untuk mendapatkan apa yang aku mau dari uncle atau onty. Sehabis itu, pasti aku diberi makan yang banyak. Setelah kenyang, aku biasanya menjilati bagian kakiku dan merasa kekenyangan. Kalau sudah kenyang, aku paling tidak suka kalau digendong atau dipegang. Aku pasti akan selalu mencoba menghindar saat ingin ditangkap dan berlari ke luar rumah untuk kembali main lagi.
            Aku punya cerita saat aku ditinggal oleh keluargaku. Malam sebelum mereka berangkat, uncle Rifky membuatkan aku dispenser makanan agar nanti saat aku lapar aku tetap bisa makan. Tidak lupa juga ia siapkan satu ember berisi air untuk minumku. Cukup lama sekali aku ditinggal oleh mereka, aku tidak tahu berapa lama. Saat aku ditinggal, esok hari setelah keluarga pemilikku pergi dan membawa banyak barang berisi pakaian dan kue-kue, aku melihat banyak sekali manusia lalu lalang di depan rumahku. Aku bingung, tapi aku senang karena ramai. Saat aku jalan-jalan di hari itu, ada banyak rumah-rumah yang membuang makanan. Tulang ayam, kesukaan teman-temanku di luar sana melimpah ruah. Aku sempat mengobrol dengan seekor teman di dekat rumahku.
“Apa yang sedang terjadi?”, tanyaku.
“Entahlah, aku juga tidak tahu. Yang jelas setiap tahun pasti ada yang seperti ini. Ada yang pergi membawa banyak tas dan barang-barang selama beberapa hari dan yang tidak pergi pun juga banyak. Pagi harinya, mereka manusia pergi ke tanah lapang dan berkumpul di sana. Mengumandangkan sesuatu di pengeras suara dari malam hingga pagi hari keesokan harinya. Suara mengagetkan disertai kilauan cahaya di langit juga meramaikan di hari itu. Di rumah-rumah, setelah mereka pulang berkumpul akan ada banyak sekali makanan dan saat itu lah kami berkumpul menunggu  tulang ayam kesukaan kami.”, cerita salah seekor teman dekatku di rumah. Aku tidak ikut makan dengan mereka karena uncle dan onty sudah menyiapkan makanan yang banyak sekali di teras rumah.
            Setelah lama menunggu di kursi teras rumah akuhirnya pada malam hari keluarga pemilikku pulang. Aku sangat senang sekali. aku mengeong sangat keras karena aku kangen mereka. Sudah lama sekali aku tidak melihat mereka. Walaupun makanan dan minuman melimpah, tapi tidak ada yang mengelusku. Aku kangen saat onty mencium kepala dan mengelus leherku. Aku senang sekali mereka kembali. Kukira mereka marah dengan kelakuanku yang terkadang nakal, tapi tenyata mereka pulang juga.
            Itulah kisahku, kucing kampung biasa yang pemiliknya memberikan nama Momotaro padaku. Sekarang aku sudah berumur 1 tahun dan badanku makin gemuk. Aku sangat senang tinggal di keluarga ini. Walau aku sudah ditinggal ibu dan saudara-saudaraku tapi aku masih punya onty dan uncle yang sangat sayang padaku. Namun aku terkadang suka kesal dengan uncle Rifky yang senang menarik pipiku dan menciumnya. Aku suka kesakitan karenanya. Walaupun begitu tapi aku sangat sayang padanya. Uncle selalu membersihkan telingaku, menggunting kukuku, dan setiap uncle ada di rumah ia selalu memeriksaku dengan benda yang satu sisinya ditaruh di dadaku dan satunya lagi di telinganya. Uncle juga sering membuka mulutku dan menaruh benda ke bagian tubuhku yang mengeluarkan pup dan berbunyi bip....bip jika sudah terlalu lama. Aku suka tidak bisa diam kalau sedang diperiksa dan dimandikan, tapi uncle selalu bilang ini dilakukan agar aku selalu sehat dan tidak sakit. Kalau aku gatal, uncle selalu memeriksa kulit yang kugaruk dan memberi sesuatu di bagian yang gatal itu. Rasanya dingin tapi nyaman sekali. Aku sayang sekali dengan uncle dan onty pemilikku. Mereka sangat baik sekali. Semoga Tuhan selalu memberikan kesehatan dan uang yang melimpah untuk mereka semua agar mereka bisa tetap bermain dan memberikan aku makanan lezat yang aku suka.